BAB IV : Tepung Azolla Dalam Ransum Pakan Ayam

Pemanfaatan tepung Azolla sebagai pakan ayam sudah banyak diteliti penggunaannya pada beberapa negara, baik itu terhadap ayam pedaging maupun ayam petelur. BASAK et al. (2002) dari Bangladesh mengamati pemanfaatan tepung Azolla pada ayam pedaging (broiler), dimana hasilnya menunjukkan bahwa tepung Azolla dapat digunakan sebagai bahan pakan sumber protein untuk ayam broiler, sampai tingkat 5% dalam ransum untuk menghasilkan performan yang lebih baik, dan tidak menurunkan palatibilitas ransum.

Tepung Azolla Ransum Pakan Ternak Ayam
Ransum Pakan Ternak Ayam

BASAK et al. (2002) mengatakan bahwa pengaruh penggunaan tepung Azolla pinnata dalam ransum ayam broiler, memberikan hasil bahwa pada usia 6 dan 7 minggu ayam broiler yang diberi ransum mengandung tepung Azolla memberikan pengaruh yang signifikan terhadap bobot badan ayam broiler, ransom dengan kandungan 5% tepung Azolla menghasilkan berat badan terbaik (1637 g) yang kemudian diikuti oleh ransum control (tanpa Azolla) (1579 g). Bobot badan tersebut sama dengan pada pengamatan SINGH dan SUBUDHI (1978). Akan tetapi penggunaan tepung Azolla pada tingkat penggunaan 10 dan 15% dalam ransum memberikan pengaruh negatif terhadap pertambahan bobot badan (BASAK et al., 2002), hasil penelitian tersebut berbeda dengan hasil penelitian CAMBEL (1984) yang menemukan bahwa penggunaan tepung Azolla dalam ransum ayam broiler sampai tingkat pemakaian 10% justru memberikan hasil yang lebih baik. Dari tampilan tabel 1 terlihat bahwa semakin tinggi tingkat penggunaan tepung Azolla dalam ransum memberikan dampak pertumbuhan yang buruk ayam broiler. Hal ini dimungkinkan sebagai akibat pengaruh tingginya NDF dalam tepung Azolla, seperti apa yang telah disampaikan oleh BUCKINGHAM et al. (1978).

Tepung Azolla
Tepung Azolla

Basak et al. (2002) menyatakan bahwa pemberian tepung Azolla tidak mempengaruhi konsumsi ransum ayam broiler. Hasil ini sama dengan apa yang disampaikan oleh Bhuyan etal. (1998) dan Querubin et al. (1986a) yang menyatakan bahwa pemberian tepung Azolla dalam ransum ayam broiler tidak mempengaruhi konsumsi pakan hingga level 15%. Hasil tersebut mempertegas kembali apa yang dilaporkan Castilo et al. (1981) dan Sreemannaryana et al. (1993), walaupun bertolak belakang dengan kesimpulan yang didapat oleh Bested dan Morento (1985) yang menyatakan bahwa penggunaan tepung Azolla dalam ransum dapat mempengaruhi palatabilitas pakan dan mengurangi konsumsi pakan. FCR menurun secara nyata pada perlakuan tepung Azolla 10 dan 15% (BASAK et al., 2002).

Hasil tersebut serupa dengan hasil penelitian yang ditemukan oleh QUERUBIN et al. (1986 a) bahwa pemberian 10 dan 15% tepung Azolla dalam ransum ayam menurunkan nilai FCR. Apa yang ditemukan di atas menunjukkan bahwa selain adanya NDF dan ADF yang merupakan faktor pembatas yang menghambat penggunaan pakan serta menurunkan tingkat efisiensi pemanfaatan pakan dari ransum yang mengandung tepung Azolla pada ternak monogastrik (BUCKINGHAM et al., 1978;

TAMANG et al., 1992). Keberadaan serat kasar yang tinggi, dan terdapatnya zat anti nutrisi tannin dalam tanaman air juga menjadi factor penyebab lain yang mengakibatkan adanya penurunan pemanfaatan gizi ransum dari tepung Azolla (MUZLAR et al., 1978).

Efisiensi protein dan energi terbaik terdapat pada perlakuan 5% tepung Azolla, ransom mengandung 10 dan 15% tepung Azolla memiliki tingkat efisiensi protein dan energi yang rendah, sebagai akibat dari tingkat kecernaan yang rendah (BASAK et al., 2002).

Oleh karenanya BUCKINGHAM et al. (1978) mengatakan bahwa tepung Azolla tidak baik apabila digunakan sebagai pakan tunggal untuk ayam pedaging.

BASAK et al. (2002) melaporkan bahwa penggunaan tepung Azolla dalam ransum ayam broiler sampai tingkat penggunaan 15% tidak menimbulkan kematian, hasil ini serupa dengan apa yang disampaikan oleh CASTILLO et al. (1981) dan BACERRA et al. (1995) yang mengatakan bahwa tidak ada pengaruh racun dalam pemberian ransum mengandung tepung Azolla pada ayam broiler dan petelur.

Ayam Pullet yang diberi perlakuan ransom mengandung 15% tepung Azolla memiliki tingkat pertumbuhan terendah, walau secara statistika nilainya tidak berbeda dengan yang lain, apabila dihubungkan dengan nilai konsumsi ransum dapat diduga bahwa hal tersebut disebabkan oleh tingkat konsumsi pakan yang lebih rendah sehingga mengurangi asupan energi dibandingkan dengan yang lain (ALALADE dan IYAYI, 2006).

MAURICE et al. (1984) mengatakan bahwa tepung Azolla yang diberikan dengan tingkat yang rendah pada ransum unggas memberikan pengaruh yang baik, pengaruhnya tidak hanya berfungsi sebagai sumber protein tetapi juga sumber pigmen untuk kuning telur serta warna kulit ayam. UDEDIBIE dan IGWE (1989) menyimpulkan bahwa kontribusi daun tumbuhan pada proses pigmentasi kuning telur telah lama diakui terjadi pada unggas petelur.

Dengan melihat besarnya potensi yang dimiliki oleh tanaman Azolla, LUMPKIN dan PLUCKNETTE (1982); VANHOVE dan LOPEZ (1982) mengatakan bahwa Azolla termasuk yang paling menjanjikan dari sudut pandang kemudahan budidaya, produktivitas dan nilai gizi yang dimilikinya, untuk dijadikan sebagai bahan pakan tambahan sumber protein ransom ayam.

KESIMPULAN

Tepung Azolla memiliki potensi yang baik untuk dijadikan sebagai bahan pakan tambahan sumber protein untuk ternak ayam. Azolla memiliki kemampuan produksi yang baik, Azolla juga kaya dengan protein serta asam amino essensial yang dibutuhkan oleh tubuh ayam. Pemanfaatan Azolla sebagai bahan pakan untuk ayam dibatasi oleh adanya kandungan serat kasar, NDF, ADF, serta tannin yang cukup tinggi yang terdapat ada di dalamnya. Tepung Azolla dapat sampai tingkat 5% dalam ransum ayam broiler, dan sampai tingkat 15% tidak menurunkan palatabilitas ransum.

BAB I Baca Selengkapnya

Sumber Tulisan Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner 2011 CECEP HIDAYAT, A. FANINDI, S. SOPIYANA dan KOMARUDIN

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *