Tanaman Kersen (Muntingia calabura L.)

Menurut Verheij (1997), Tanaman kersen atau talok atau yang biasa disebut ceri ini adalah nama sejenis pohon yang memiliki buah kecil yang manis. Nama-nama lainnya di beberapa negara adalah: datiles, aratiles, manzanitas (Filipina), khoom sômz, takhôb (Laos), krâkhôb barang (Kamboja); dan kerukup siam (Malaysia). Kersen juga dikenal sebagai capulin blanco, cacaniqua, niguito (bahasa Spanyol), Jamaican cherry, Panama berry, Singapore cherry (Inggris) dan Japanse kers (Belanda), yang lalu nama tersebut diambil menjadi kersen dalam bahasa Indonesia.

Kersen (Muntingia calabura L.) merupakan tanaman yang dapat tumbuh dan berbuah dengan cepat sepanjang tahun. Buah berbentuk bulat berdiameter (1-1,25 cm), dengan warna merah atau kadang-kadang kuning, kulitnya tipis dan halus. Apabila dimakan buah ini berair dengan rasa yang sangat manis, memiliki aroma yang khas tetapi tidak tajam, bijinya sangat halus dan berwarna kekuningan (Trieha, 2015) . Setiap 100 g buah kersen mengandung beberapa macam zat -zat yang dibutuhkan oleh tubuh air (77,8 gram), Protein (0,384 gram), Lemak (1,56 Gram), Karbohidrat (17,9 gram), Serat (4,6 gram), Abu (1,14 gram), Kalsium (124,6 mg), Fosfor (84mg), Besi (1,18 mg), Karoten (0,019g), Tianin (0,065g), Ribofalin (0,037g), Niacin (0,554 g) dan kandungan Vitamin C (80,5 mg) nilai Energi yang dihasilkan adalah 380KJ/100 gram.

Batang tanaman kersen merupakan jenis perdu atau pohon dengan tinggi tanaman mencapai 12 m, meski umumnya hanya sekitar 3-6 m. Tanaman kersen selalu hijau dan terus menerus berbunga dan berbuah sepanjang tahun. Cabang-cabang mendatar, menggantung di ujungnya dan membentuk naungan yang rindang. Ranting dan daun berambut halus bercampur dengan rambut kelenjar. Daun-daun terletak mendatar dan berseling, helaian daun berbentuk bundar telur lanset dan tidak simetris, bagian tepin daun bergerigi dan berujung runcing, daun kersen berukuran sekitar 1-4 × 4-14 cm, dan memiliki tangkai daun yang pendek. (Handoko, 2013).

Bunga dalam berkas, berisi 1-3 kuntum, bunga terletak pada ketiak sebelah atas tumbuhnya daun dan bertangkai panjang, tajuk kersen berbentuk meruncing seperti benang dan memiliki rambut-rambut halus. Mahkota bunga memiliki tepi yang rata, berbentuk bundar telur terbalik dan berwarna putih tipis. Umumnya hanya satu-dua bunga yang menjadi buah dalam tiap berkasnya. Buah kersen memiliki tangkai panjang, bentuk buah bulat hampir sempurna, berdiameter 1-1,5 cm, berwarna hijau kuning dan akhirnya merah apabila sudah masak. Dalam satu buah kersen berisi ribuan biji yang kecil-kecil, halus, putih kekuningan, terbenam dalam daging dan sari buah yang manis sekali.

Di Indonesia pohon kersen mudah dijumpai dan didapat, selain mudah didapat dan lebih ekonomis, ternyata buah kersen memiliki kandungan gizi yang hampir lengkap dibanding dengan buah lainnya. Kandungan karbohidrat yang tinggi pada buah kersen (17,9g/100g buah kersen) dapat menyediakan kebutuhan dasar yang diperlukan untuk pertumbuhan suatu tanaman, khususnya gula yang terkandung didalamnya merupakan nutrisi utama sel, sehingga dapat dijadikan sebagai medium alternatif untuk kultur in vitro khususnya untuk tanaman anggrek.

Tanaman Kersen (Muntingia calabura L.)
Gambar Morfologi Daun, Bunga, dan Buah Tanaman Kersen (Trieha, 2015)

Karbohidrat pada buah kersen merupakan sumber energi yang siap digunakan untuk perkembangan vegetatif anggrek pada proses subkultur, hal ini dikarenakan anggrek pada proses subkultur belum mampu melakukan fotosintesis untuk mendapatkan sumber energi. Selain itu kalsium, fosfor dan besi yang terkandung dalam buah kersen dapat menjadi sumber mineral untuk anggrek pada proses subkultur. Karoten, tianin, ribofalin, niacin, dan vitamin C dapat berguna sebagai resukrosator dalam kultur in vitro. Berdasarkan pengamatan, pohon kersen mampu menghasilkan buah kurang lebih sebanyak 3 kg setiap masa berbuahnya, hal ini memungkinkan ketersediaan kersen sebagai medium substitusi dalam proses subkultur (Handoko ,2013).

Lihat Juga : Anggrek Vanda Tricolor Indonesia Spesies Anggrek Endemik

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *