Syarat Tumbuh Tanaman Cabai Pembenihan Sampai Panen

Secara umum tanaman cabai dapat dikelompokkan atau diklasifikasikan sebagai berikut : Kingdom (Plantae), Divisi (Spermatophyta), Sub Divisi (Angiospermae). Kelas (Dicotyledoneae), Sub Kelas (Sympetalea), Ordo (Tubiflorae), Family (Solanaceae), Genus (Capsicum) dan Species (Capicum annum L.)

Hot Beauty adalah cabai yang berkarkteristik tanaman tegak, agak tinggi, kuat dan subur, daun kecil, cepat berbuah dan produksinya tinggi. Dapat berbuah terus-menerus sehingga masa panennya panjang dan dapat depanen secara bertahap. Tanaman Cabai adalah tanaman perdu dengan rasa buah pedas yang disebabkan oleh kandungan capsaicin. Secara umum cabai memiliki banyak kandungan gizi dan vitamin. Diantaranya kalori, protein, lemak, karbohidrat, kalsium, vitamin A, B1 dan vitamin C (Prayudi, 2010).

Cabai ini merupakan varietas hibrida dengan tinggi tanaman 87-95 cm, umur mulai berbunga 44-50 hst, umur mulai panen 87-90 hst. Ukuran Buah panjang 11,5-14,1 cm, diameter 0.78-0.85 cm, permukaan kulit halus, berat perbuah 17-18 g. (Prayudi, 2010). Varietas hot beauty ini dengan rasa kurang pedas dan warna merah menggiurkan. Bentuk pada buah cabai tersebut tipis. Jika buah cabai sudah dipetik pada jangka waktu seminggu maka buah tetap terlihat segar. Pada jangka masa panen sendiri lebih panjang dan dapat ditanam di dataran rendah dan tinggi (Adi, 2011).

1. Syarat Tumbuh Cabai

Pada umumnya tanaman cabai merah dapat ditanam di dataran tinggi maupun dataran rengah, yaitu antara 500-1.200 m diatas permukaan laut. Yang terdapat di seluruh Indonesia terutama di Pulau Jawa. Meskipun luas lahan yang cocok untuk cabai masih sangat luas tetapi penanaman cabai di dataran tinggi masih sangat terbatas. Perkembangan tanaman cabai merah lebih diarahkan ke areal perkembangan dengan ketinggian sedikit dibawah 800 m diatas permukaan laut. Terutama pada lokasi yang air irigasinya sangat terjamin sepanjang tahun (Prayudi, 2010).

Tanaman cabai dikenal sebagai tanaman yang memiliki daya adaptasi yang luas. Cabai dapat ditanam hampir di semua jenis tanah, dan tipe iklim yang berbeda. Walaupun demikian, daerah yang paling cocok untuk penanaman cabai bibitazolla.net. Berdasarkan luas areal penanamannya dijumpai pada jenis tanah mediteran dan aluvial. Tipe iklim D3/E3 (0-5 bulan basah dan 4-6 bulan kering (Prayudi, 2010).

Komponen iklim terdiri atas temperatur harian, kelembaban dan curah hujan, angin serta cuaca. Syarat iklim yang penting yang harus terpenuhi. Untuk pertumbuhan tanaman hot beauty atau cabai hibrida lainnya adalah tersedianya Intensitas cahaya yang cukup (Prayudi, 2010).

Suhu paling ideal perkecambahan benih cabai adalah 25-30 oC. Untuk pertumbuhannya, tanaman cabai hibrida memerlukan suhu 24-28 oC. Suhu yang terlalu rendah akan menghambat pertumbuhan tanaman. Selain itu pertumbuhan dan perlembangan bunga dan buah menjadi kurang sempurna.

Kelembapan udara merupakan perbandingan relatif antara udara dan uap air di suatu daerah. Semakin tinggi kandungan uap air di udara, maka kelembapan udara makin tinggi pula. Pada pertanaman cabai kelembapan lingkungan menjadi lebih penting diperhatikan karena berkaitan dengan perkembangan mikroorganisme pengganggu. Kelembapan relatif yang diperlukan untuk pertumbuhan tanaman cabai sekitar 80% (Prayudi, 2010).

2. Persiapan Lahan Cabai

Budidaya tanaman cabai harus diperhatikan sejak persiapan lahan, karena akan berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman. Pengolahan tanah dilakukan secara sempurna dengan mencangkul. Untuk membersihkan lahan dari kotoran akar bekas tanaman lama dan segala macam gulma yang tumbuh. Hal tersebut dilakukan agar pertumbuhan akar tanaman cabai tidak terganggu dan untuk menghilangkan tumbuhan yang menjadi inang hama dan penyakit.

Apabila lahan dalam skala luas banyak ditumbuhi gulma, pembersihannya dapat menggunakan herbisida sistemik. Dengan bahan aktif isopropil amina glifosat dengan dosis 2 – 4 liter per hektar. Selanjutnya lahan dibajak dan digaru dengan hewan ternak ataupun dengan bajak traktor Bibitazolla.net. Pembajakan dan penggaruan bertujuan untuk menggemburkan, memperbaiki aerasi tanah dan untuk menghilangkan organisme penggangu tanaman (OPT) yang bersembunyi di tanah. Selain persiapan tersebut di atas ada beberapa tahapan yang perlu diperhatikan sebagai berikut (Prayudi, 2010);

Lihat : Pengkajian Teknologi Pertanian Nilai Gizi Azolla

  • pH tanah diusahakan 6 – 7, apabila pH kurang lakukan penaburan kapur pertanian atau dolomit untuk meningkatkan pH. Untuk menaikkan pH tanah dilakukan pengapuran lahan. Menggunakan dolomit atau kapur gamping dengan dosis 2 – 4 ton/hektar atau 200 – 400 g/m² tergantung pH tanah yang akan dinaikkan.
  • Setelah tanah diolah sempurna dibuat bedengan dengan ukuran lebar 100 – 110 cm. Tinggi bedengan 40 – 60 cm, jarak antar bedengan 80 cm. Panjang bedengan 10 – 12 m atau disesuaikan lebar parit, dan lebar parit 50 – 60 cm. Mengingat sifat tanaman cabai yang tidak bisa tergenang air. Maka dalam pengaturan/ploting bedengan dan pembuatan parit harus ada saluran drainase yang baik.
  • Pupuk kandang yang diperlukan sebanyak 10 – 20 ton/hektar atau 0,5 – 1 zak untuk 10 m panjang bedengan. Pemupukan dilakukan dengan cara menabur pupuk secara merata di atas bedengan. Luas lahan 1.000 m² diperlukan pupuk urea 35 kg, SP36 20 kg, KCl 20 kg. Dan pupuk kandang 1.500 – 2.000 kg.
  • Bedengan untuk tanaman cabai bisa menggunakan mulsa plastik ataupun tidak.

3. Pembenihan Tanaman Cabai

Penggunaan benih bermutu merupakan kunci utama untuk memperoleh hasil cabai merah yang tinggi. Agar diperoleh tanaman yang seragam dengan pertumbuhan dan hasil yang tinggi, diperlukan benih bermutu tinggi. Benih bermutu tinggi untuk cabai merah harus mempunyai sifat-sifat sebagai berikut (Prayudi, 2010): a) berdaya kecambah tinggi (di atas 80%); b) mempunyai vigor yang baik (benih tumbuh serentak, cepat dan sehat); c) murni (tidak tercampur oleh varietas lain); d) bersih (tidak tercampur kotoran, biji-biji rumput/tanaman lain); dan e) sehat (bebas Organisme Pengganggu Tumbuhan).

4. Penanaman Cabai

Penanaman bibit pada bedengan dilakukan setelah berumur 21 – 24 hari. Jarak tanam 50 x 60 cm untuk dataran rendah dan 60 x 75 cm untuk dataran tinggi. Penanaman dilakukan pada sore hari atau pagi hari sekali. Setelah selesai tanam dilakukan penyiraman air secukupnya dengan cara menyemprotkan dengan tekanan rendah dan merata sampai keakarnya. Penanaman diusahakan serentak selesai dalam 1 hari (Prayudi, 2010).

5. Pemupukan Tanaman Cabai

Ketersediaan unsur-unsur hara, baik hara makro (N, P, K, Ca, Mg dan S). Ataupun hara mikro (Zn, Fe, Mn, Co, dan Mo) yang cukup dan seimbang dalam tanah. Merupakan faktor penting untuk mendapatkan hasil cabai merah yang tinggi dengan kualitas yang baik. Setiap unsur hara mempunyai peran spesifik di dalam tanaman. Kekurangan atau kelebihan unsur hara dapat menghambat pertumbuhan tanaman dan menurunkan hasil. Jenis pupuk yang digunakan untuk menambah hara N, P, K dan S adalah Urea, ZA, TSP/SP-36, KCl, ZK (K2SO4). Penambahan kapur atau dolomit dilakukan untuk meningkatkan unsur hara Ca dan Mg. Sebagai sumber hara mikro umumnya dari pupuk kandang atau kompos.

Dosis pupuk kandang atau kompos hanya sekitar 10-20 ton/hektar, sedangkan pupuk NPK hanya sekitar 66 kg/hektar. Bila pupuk NPK diganti dengan campuran pupuk tunggal. Maka dosisnya adalah urea 66 kg/hektar, TSP 62 kg/hektar, dan ZK 66 kg/hektar atau KCL 54 kg/hektar. Walaupun sudah disebutkan dosisnya seperti diatas, tetapi sebenarnya dosis pemberian pupuk harus didasarkan pada pH tanah. Dosis yang sudah disebutkan hanya berlaku untuk tanah dengan pH netral (6,0-7,0). Bila pH tanah belum atau tidak netral maka tanah perlu dinetralkan terlebih dahulu sebelum dipupuk (Prayudi, 2010).

Lihat : Pelet herbal buatan dengan bahan baku utama tumbuhan

6. Pengendalian Hama dan Penyakit

Produktivitas yang dicapai petani pada umumnya masih berada pada tingkat di bawah potensi hasil. Salah satu penyebab masih belum dicapainya potensi hasil tersebut adalah gangguan hama dan penyakit tanaman jika tidak mendapat perhatian. Serangan hama dan penyakit dapat menyebabkan tanaman mengalami kerusakan parah, dan berakibat gagal panen. Uraian di bawah ini mengulas beberapa hama dan penyakit utama cabai. Dan cara-cara pengendaliannya sesuai dengan strategi pengelolaan hama terpadu (PHT). Hama dan penyakit utama cabai serta pengendaliannya dapat dijelaskan sebagai berikut (Prayudi, 2010);

a. Kutu daun persik (Myzus persicae Sulz.)

Kutu daun persik dapat menyebabkan kerugian secara langsung, yaitu menghisap cairan tanaman. Tanaman yang terserang daunnya menjadi keriput dan terpuntir, dan pertumbuhan tanaman menjadi terhambat (kerdil). Kerusakan pada daun muda yang menyebabkan bentuk daun keriput menghadap ke bawah adalah ciri spesifik gangguan kutu daun. Bagian daun bekas tempat hisapan kutu daun berwarna kekuningan. Populasi kutu daun yang tinggi dapat menyebabkan klorosis dan daun gugur, juga ukuran buah menjadi lebih kecil. Kutu daun menghasilkan cairan embun madu yang dapat menjadi tempat untuk pertumbuhan cendawan embun jelaga pada permukaan daun dan buah. Selain itu, kutu daun persik dapat menyebabkan kerugian secara tidak langsung, karena perannya sebagai vektor penyakit virus (Prayudi, 2010).

b. Antraknose

Penyebab (patogen) dan gejala penyakit antraknose disebabkan oleh dua jenis jamur yaitu Colletotrichum capsici dan Colletotrichum gloeosporioides. Gejala pada biji berupa kegagalan berkecambah dan pada kecambah menyebabkan layu semai. Pada tanaman yang sudah dewasa menyebabkan mati pucuk, pada daun danbatang yang terserang menyebabkan busuk kering. Buah yang terserang C. capsici menjadi busuk dengan warna seperti terekspos sinar matahari (terbakar) yang diikuti busuk basah berwarna hitam. Karena penuh dengan rambut hitam, jamur ini pada umumnya menyerang buah cabai menjelang masak (buah berwarna kemerahan) (Prayudi, 2010).

7. Panen Cabai

Pemanenan pada cabai merah saat umur 87-90 hst. Ukuran Buah panjang 11,5-14,1 cm, diameter 0.78-0.85 cm, permukaan kulit halus, berat perbuah 17-18 g. Tanaman cabai dapat dipanen setiap 2 – 5 hari sekali tergantung dari luas tanaman dan kondisi pasar. Pemaenan dilakukan dengan cara memetik buah beserta tangkainya yang bertujuan. Agar cabai dapat disimpan lebih lama dan tidak mudah buah membusuk.

Buah cabai yang rusak akibat hama atau penyakit harus tetap dipanen. Agar tidak menjadi sumber penyakit bagi tanaman cabai lain yang sehat. Pisahkan buah cabai yang rusak dari buah cabai yang sehat.

Waktu panen sebaiknya dilakukan pada pagi hari karena bobot buah dalam keadaan optimal. Akibat penimbunan zat pada malam hari dan belum terjadi penguapan antara 12 – 16 kali dengan selang waktu 3 hari. Buah yang dipetik setelah matang berwarna orange sampai merah. Hasil panen variatif antara 10 – 14 ton dengan potensi hasil sampai dengan 23 ton/hektar cabai segar (Prayudi, 2010).

Lihat : Syarat Tumbuh Tanaman Tomat dan Metode Pemupukannya

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *