Pupuk Organik Unsur Jenisnya dan Manfaatnya

Pupuk organik adalah pupuk yang berasal dari pelapukan bahan-bahan organik berupa sisa-sisa tanaman, fosil manusia dan hewan, kotoran hewan, dan batu-batuan organik yang terbentuk dari tumpukan kotoran hewan selama ratusan tahun. Pupuk organik juga dapat berasal dari limbah industri, seperti limbah rumah potong hewan, limbah-limbah industry minyak asiri, ataupun air limbah industri yang telah diolah, sehingga tidak lagi mengandung bahan beracun (Agromedia, 2007).

Hasil pelapukan sisa-sisa makhluk hidup, pupuk organik termasuk pupuk yang lengkap. Artinya, di dalam pupuk tersebut terkandung unsur makro dan mikro yang dibutuhan tanaman, meskipun unsur-unsur tersebut didalam pupuk organik tergolong rendah sehingga harus diaplikasi pada tanaman dalam jumlah bannyak. Unsur-unsur organik di dalam pupuk ini baru biasa dimanfaatkan tanaman setelah melalui proses dekomposisi di dalam tanah. Hal inilah yang menyebabkan pupuk organik diaplikasikan lebih banyak sebagai pupuk dasar (Agromedia, 2007).

Bahan organik yang dibenamkan dalam tanah akan mengalami penguraian menjadi bentuk-bentuk sederhana oleh mikro organisme. Proses penguraian tersebut akan menghasilkan CO2 dan air, sedangkan senyawa nitrat akan terbentuk setelah melalui nitrifikasi. Sumber utama bahan organik adalah sisa tanaman yang dikembalikan kedalam tanah dan pupuk organik (Buckmandan Brady, 1982). Beberapa usaha yang perlu dilakukan dalam mempertahankan atau menaikkan kandungan organik tanah yaitu (1) menggunakan pupuk kandang, kompos atau pupuk hijauan; (2) mengusahakan dikembalikanya sisa-sisa tanaman ke dalam tanah,(3) melakukan penanaman secara tumpang sari sehingga tanah akan tertutup oleh tanaman,(4) pengolahan tanah dilakukan seminimal mungkin (Supirin, 2004).

Pemberian pupuk organik kedalam tanah selain bertujuan untuk menyediakan unsur hara,juga bertujuan untuk memperbaiki kondisi fisik tanah (Yuwono, 2005). Penambahan bahan organik dalam tanah lebih kuat pengaruhnya kearah perbaikan fisik tanah dan bukan khusus untuk meningkatkan unsur hara dalam tanah (Winarso, 2005). Menurut Hanafiah (2004) secara fisik bahan organik berperan dalam (1) merangsang granulasi, (2) menurunkan flastisitas dan kohesi , (3) memperbaiki struktur tanah, (4) meningkatkan daya tahan tanah dalam menahan air sehingga drainase tidak berlebihan, kelembaban dan temperatur tanah menjadi stabil, selain itu dapat meningkatkan jumlah dan aktivitas mikro organisme tanah.

Gamal (pupuk organik)

Gamal (Gliricidia sepium) merupakan salah satu jenis tanaman yang dapat digunakan sebagai sumber pakan ternak ruminansia. Tanaman ini berbentuk pohon dengan ukuran sedang dan termasuk tanaman jenis kacang-kacangan. Tanaman ini sebagai tanaman tahunan yang dapat menyediakan hijauan sepanjang tahun, mempunyai nilai makanan yang cukup tinggi dibandingkan dengan tanaman lain yang sebangsanya (Mathius, 1984).

Adanya pemberian pupuk organik hijau ke dalam tanah menyebabkan tanah tersebut memperoleh suplai unsur-unsur hara yang terkandung dalam pupuk organik hijau terutama unsur Nsebesar 2,28%, P 0,07% dan K 2,12%, demikian pula unsur hara seperti Ca dan Mg serta unsur-unsur mikro. Kesemua unsur hara tersebut merupakan unsur penting bagi tanaman yang dapat menunjang pertumbuhan dan produksi tanaman yang lebih baik (Havlin et al., 2005).

Meningkatnya ketersediaan hara akibat penambahan pupuk organik hijau dari daun gamal, akan meningkatkan produksi berat kering tanaman. Unsur hara dibutuhkan oleh tanaman untuk pertumbuhannya dan perkembangannya. N yang diserap tanaman mengalami metabolisme dimana diubah menjadi NH4+ dan NO3-. Tanaman yang kekurangan N daunnya berubah dari warna hijau kehijau pucat kekuningan sebab N berperan sebagai penyusun protein (asam amino, enzim) dan molekul klorofil. Lahadassy Jusuf, dkk. (2007) mengatakan bahwa penggunaan pupuk organik padat daun gamal (POPDG) mampu meningkatkan pertumbuhan tanaman terutama tanaman Sawi, hasil terbaik yang dapat diperoleh pada penggunaan POPDG terhadap tanaman sawi adalah 6-8 ton/hektar, dan penggunaan POPDG dengan dosis lebih dari 8 ton/hektar cenderung mengurangi laju pertumbuhan vegetatif dan berat segar tanaman sawi.

Azolla (Pupuk Organik)

Azolla adalah jenis tumbuhan paku air yang banyak terdapat di perairan yang tergenang terutama di sawah-sawah dan di kolam. Azzola mempunyai permukaan daun yang lunak mudah berkembang dengan cepat dan hidup bersimbosis dengan Anabaena azollae yang dapat memfiksasi Nitrogen (N2) dari udara. Azolla pinnata merupakan tumbuhan kecil yang mengapung di air, terlihat berbentuk segitiga atau segiempat. Azolla berukuran 2-4 cm x 1 cm, dengan cabang, akar rhizoma dan daun terapung. Akar soliter menggantung di air, berbulu, dengan panjang 1-5 cm, yang membentuk kelompok 3-6 rambut akar. Daun kecil membentuk 2 barisan, menyirap bervariasi, duduk melekat, cuping dengan cuping dorsal berpegang di atas permukaan air dan cuping ventral mengapung.

Azolla pinnata ditemukan di daerah tropis asia seperti Cina selatan dan timur, Jepang bagian selatan, Australia bagian utara dan di daerah tropis Afrika selatan (termasuk Madagaskar). Azolla pinnata dapat beradaptasi pada daerah dengan kondisi iklim yang panjang. Kebutuhan utama Azolla untuk bertahan hidup adalah habitat air, sangat sensitif terhadap kekeringan. Azolla akan mati dalam beberapa jam jika berada pada kondisi kering. Azolla menyebar secara luas pada wilayah sedang (temperate), umumnya sangat terpengaruh pada tingginya suhu pada daerah tropis. Untuk hidup dengan baik Azolla membutuhkan temperatur antara 20-25°C. Untuk dapat tumbuh dan fiksasi nitrogen, Azolla membutuhkan temperatur 20-30°C, dan akan menyebabkan kematian jika berada di bawah 5°C and diatas 45°C. Perbanyakan dapat dilakukan melalui spora, namun secara umum perbanyakan Azolla dilakukan secara vegetatif (Prohati, 2014).

Kandungan hara dalam tanaman Azolla yaitu P (0,30% ), K (0,65%), C-organik (15,1%), N-total (3,91%), nilai C/N (10), dan kandungan bahan organiknya (39,9 %) (Fiolita dkk., 2013). Azolla memfiksasi nitrogen di udara karena azolla bersimbiosis dengan Endofitik cyanobakteria yang dikenal dengan nama Anabaena Azollae yang mempunyai dua macam sel vegetatif dan heterosis. Dalam sel heterosis mengandung enzim nitrogenase yang akan memfiksai N2 udara melalui ATP yang berasal dari peredaran foto fosforilasi tanaman paku air. Enzim nitrogenasi dapat mengubah N2 menjadi ammonia (NH4+) yang selanjutnya diangkut ke tanaman inang dan hasil fiksasi nitrogen diubah menjadi asam amino. Disamping itu, Azzola mempunyai kemampuan memfiksasi CO2 dan melakukan fotosintesis, selain dipergunakan untuk kebutuhan sendiri, foto sintat yang dihasilkan bersama dengan asam amino akan di angkut ke simbion Anabaena azollae (Zainal Arifin, 1996).

Menurut Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) (2014), Azolla yang bersimbiosis dengan Anabaena azollae dapat memfiksasi N2-udara dari 70-90%. N2-fiksasi yang terakumulasi ini yang dapat digunakan sebagai sumber N bagi padi sawah. Dari beberapa penelitian diperoleh bahwa laju pertumbuhan Azolla adalah 0,355-0,390 gram per hari (di laboratorium) dan 0,144-0,890 gram per hari (di lapangan). Pada umumnya biomassa Azolla maksimum tercapai setelah 14-28 hari setelah inokulasi. Dari hasil penelitian BATAN (1988) diketahui bahwa dengan menginokulasikan 200 gram Azolla segar per m2 maka setelah 3 minggu. Azolla tersebut akan menutupi seluruh permukaan lahan tempat Azolla tersebut ditumbuhkan. Dalam keadaan ini dapat dihasilkan 30-40 kg N/hektar berarti sama dengan 100 kg Urea.

Abu Serabut Kelapa (pupuk organik)

Serabut kelapa merupakan hasil samping, dan merupakan bagian yang terbesar dari buah kelapa. Yaitu sekitar 35 persen dari bobot buah kelapa. Dengan demikian, apabila secara rata-rata produksi buah kelapa pertahun adalah sebesar 5,6 juta ton, maka berarti terdapat sekitar 1,7 juta ton serabut kelapa yang dihasilkan. Potensi produksi serabut kelapa yang sedemikian besar belum dimanfaatkan sepenuhnya untuk kegiatan produktif yang dapat meningkatkan nilai tambahnya (Milawarni, 2013)

Pada penelitian sebelumnya pemanfaatan abu serabut kelapa sebagai pupuk alternatif mengganti pupuk KCl yang memiliki kandungan K yang tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian abu serabut kelapa terhadap ketersediaan K dalam tanah dan untuk mengetahui serapan K pada pertumbuhan bibit kakao (Sitti Risnah, dkk.,2013). Serabut kelapa merupakan limbah pertanian yang kurang diperhatikan keberadaanya, serabut kelapa dapat digunakan sebagai pengganti unsur NPK dengan kandunggan hara N 2,5% P 1.0% K2,5%.(Julia Gaskin, dkk,. 2009).

Menurut Bako, J., (2009), penerapan abu kayu. Pada pembibitan kakao dengan mengunakan media tanah inceptisol sampai. Pada 1500 mg K2O 2,5 kg-1 mengakibatkan pH tanah meningkat 7,4 dalam 2 bulan aplikasi. Dan pH 6,8 dalam 6 bulan setelah aplikasi. Dan penerapan abu kayu pada 700 mg 2,5 kg-1 mengakibatkan pertumbuhan bibit kakao yang optimal. Pemberian abu serabut kelapa pada takaran 3 ton/hektar dan 4 ton/hektar memberikan pengaruh yang terbaik terhadap jumlah polong bernas. Jumlah biji pertanaman dan hasil biji kering pada tanaman kedelai varietas Anjusmoro.

Pupuk Guano (Pupuk Organik)

Guano adalah bahan yang berasal dari timbunan kotoran burung laut atau kotoran kelelawar. Istilah guano kadang-kadang juga digunakan. Untuk menyebut bahan yang berasal dari kotoran mamalia laut seperti anjing laut dan singa laut Berdasarkan asalnya. Guano dibagi menjadi dua jenis. Yaitu guano burung laut (sea-bird guano) dan guano kelelawar (bat guano). Sea-bird guano adalah guano yang berasal dari kotoran burung laut. Sedangkan bat guano adalah guano yang berasal dari kotoran kelelawar (Kotabe, 1997).

Guano memiliki tingkat nitrogen terbesar setelah kotoran merpati. Namun menduduki urutan pertama dalam kadar unsur fosfat, dan menduduki urutan tiga terbesar. Bersama kotoran sapi perah dalam kadar kalium (Prasetyo, 2006). Julia Gaskin, dkk,.(2009), mengatakan bahwa kotoran kelelawar mengandung Nitrogen 5,7%, Phospor 2,06%, Kalium 0,54%. Kandungan Nitrogen, C-organik, dan kadar P dalam kotoran kelelawar termasuk dalam kategori sangat tinggi. Kadar K sedang dan rasio C/N yang sangat rendah.

Suwamo (1998) dalam percobaan pot di rumah kaca. Tentang penggunaan guano fosfat (PT Central Jawa Organik Guano) secara langsung sebagai pupuk P pada tanaman kedelai yang ditanam. Pada tanah ordo Andisol dari Kanuma. Tochigi memperoleh hasil bahwa produksi tanaman pada perlakuan guano fosfat. Tidak berbeda nyata dengan produksi pada perJakuan super fosfat. Nilai efektivitas agronomis relatif (relativeagronomic effectiveness, RAE) guano fosfat terhadap super fosfat (sebagai standar) pada tanaman tersebut mencapai 108 %. Nilai RAE guano fosfat yang diperoleh dalam percobaan tersebut. Menegaskan bahwa guano fosfat yang digunakan merupakan bahan pupuk P alam yang sangat efektif karena memiliki nilai RAE 108%.

Tabel 1. Kandungan pupuk kompos gamal, kompos azolla, abu serabut kelapa, dan pupuk guano

Kandungan Hara Kompos gamal (%) Kompos azolla (%) Abu Serabut Kelapa (%) Pupuk guano (%) Limbah Tahu (%)
N 2,28 3,91 2,50% 5,70% 1,24
P 0,07 0,30 1,00% 2,06% 5,54
K 2,27 0,65 2,50% 0,54% 1,34

Lihat : Habitat Jamur Tiram dan Faktor Perkembangannya

 

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *