Pembungaan Dan Penyerbukan Buah Naga

Fenologi Pembungaan Tanaman Buah Naga

 Fenologi pembungaan umumnya dipengaruhi oleh keadaan lingkungan sekitar, seperti lamanya penyinaran, suhu dan kelembaban udara (Fewless 2006). Menurut Jacobs (1999) tanaman buah naga akan mulai berbuah saat berumur 2-3 tahun setelah tanam. Walaupun tergolong hermafrodit bunga buah naga mekar pada malam hari serta hanya satu malam sehingga waktu penyerbukan tanaman tersebut cukup singkat. Pembungaan selalu diawali dengan munculnya kuncup bunga kemudian penyerbukan buah naga dan diakhiri dengan pematangan buah (Tabla dan Vargas 2004). Pematangan buah atau pemanenen buah di Israel dan Vietnam dilakukan saat buah berumur 28-30 hari setelah antesis (HSA) (Nerd dan McMahon 1999). Menurut Merten (2003) di Israel bunga buah naga akan mekar selama musim panas dan bunga mekar dalam 2-3 gelombang, artinya dalam satu fase musim terjadi 2-3 kali puncak pembungaan, pola yang sama juga terjadi di California. Pengamatan terkait fenologi pembungaan mencakup munculnya bunga pertama, fase perkembangan bunga, pembentukan buah, fase pematangan buah dan fase akhir pembungaan (Prathama 2009).

Botani Buah Naga

Buah naga termasuk dalam famili Cactacea yang memiliki habitat asli daerah tropika kering yakni berasal dari Meksiko, Amerika Tengah dan Amerika Selatan (Drew dan Azimi 2002). Tanaman buah naga merupakan jenis tanaman memanjat yang hanya memiliki akar, batang dan cabang, duri, bunga, buah serta biji, tetapi tidak memiliki daun (Kristanto 2010). Menurut Bellec et al. (2006) secara umum buah naga dikelompokkan ke dalam genus utama yaitu Stenocereus, Cereus, Selenicereus dan Hylocereus. Genus buah naga yang banyak dibudidayakan adalah Hylocereus sedangkan untuk tiga genus lainnya walaupun dapat di konsumsi namun belum banyak dikembangkan.

Klasifikasi buah naga secara lengkap menurut Britton dan Rose (1963) yakni termasuk dalam famili Cactaceae, subfamili Cactoideae, genus Hylocereus, Selenicereus, dan Cereus. Spesies terdiri dari Hylocereus undatus, Hylocereus polyrhizus, Hylocereus costaricensis, Selenicereus megalanthus, Cereus peruvianus dan Cereus jamacaru.

Akar tanaman buah naga tidak hanya tumbuh di pangkal batang di dalam tanah tetapi juga tumbuh pada celah-celah batang yang berfungsi sebagai alat pelekat sehingga tanaman dapat melekat atau dapat memanjat. Akar pelekat ini juga dapat disebut akar udara atau akar gantung yang memungkinkan tanaman buah naga tetap dapat hidup tanpa tanah atau hidup sebagai epifit (Bellec 2006). Perakaran buah naga sangat tahan dengan kekeringan dan tidak tahan genangan yang lama (Kristanto 2010). Andoko dan Nurrasyid (2012) menyatakan sulur merupakan istilah untuk batang pada kaktus. Sulur pada buah naga merupakan batang sukulen mengandung air yang menjadi cadangan pada kondisi lingkungan ekstrim. Sulur berwarna hijau, dan berfungsi sebagai tempat proses fotosintesis bagi tanaman tersebut.

Bunga buah naga merupakan bunga yang tergolong hermafrodit dan mekar pada malam hari. Bunga mekar hanya satu malam. Bunga buah naga memiliki ukuran yang besar, dan saat mahkota mekar diameter bunga dapat mencapai 30 cm. Polinator yang membantu penyerbukan tanaman ini diduga adalah kalelawar dan ngengat (Merten 2003). Bunga buah naga berbentuk corong memanjang dan memiliki ukuran sekitar 27-30 cm tergantung pada spesies masing-masing (Jaya 2010). Kelopak bunga bagian luar berwarna hijau, kelopak bunga bagian dalam berwarna kuning, dan mahkota bunga ketika mekar berwarna putih. Menurut McMahon (2003) bunga buah naga memiliki benang sari berwarna kuning dengan jumlah banyak dan putik tunggal berwarna kuning pucat. Menurut Weiss et al. (1994) di Israel bunga buah naga mulai membuka antara 1-1.5 jam sebelum matahari terbenam dan bunga menutup kembali antara sesaat setelah matahari terbit hingga 6 jam setelah matahari terbit.

Penyerbukan buatan dilakukan dengan mengoleskan polen dengan kuas kestigma bunga yang akan diserbuki (De Dios 2005). Menurut Weiss et al. (1994) pengambilan polen dilakukan saat bunga mekar, karena jumlah polen paling banyak pada waktu tersebut. Merten (2003) menyatakan bahwa bunga buah naga di Israel dan California mekar dalam 2-3 puncak pembungaan dalam satu musim.

Penyerbukan Buah Naga

Menurut Nerd dan McMahon (1999) serangga seperti lebah bukan merupakan polinator yang efisien bagi penyerbukan buah naga. Buah yang dihasilkan dengan bantuan penyerbukan oleh lebah menghasilkan buah yang berukuran lebih kecil dibandingkan buah yang dihasilkan dari penyerbukan silang dengan bantuan manusia. Pushpakumara et al. (2005) menyatakan posisi kepala putik yang lebih tinggi dari pada antera dan mekar bunga saat malam hari mengharuskan penyerbukan secara manual untuk meningkatkan pembentukan buah.

Menurut Merten (2003) beberapa klon buah naga memiliki sifat selfincompatible, oleh karena itu perlu dilakukan penyerbukan buah naga silang buatan dengan serbuk sari dari klon atau jenis yang berbeda sehingga menghasilkan persentase pembentukan buah yang tinggi dan buah yang besar. Namun demikian beberapa jenis H. undatus asal Asia memiliki sifat self-compatible dan beberapa lainya bersifat autogami. Menurut Weiss et al (1994) S. megalanthus bersifat autogami, artinya anter dan stigma berada pada ketinggian yang sama dalam bunga tersebut dan akan bersentuhan saat bunga menutup. Berbeda pada Hylocereus spp. Stigma memiliki posisi yang lebih tinggi dibandingkan anter sedikitnya lebih tinggi 2 cm, oleh karena itu H. undatus bersifat selft-compatible yang tidak autogami. Beberapa klon dari Hylocereus ditemukan memiliki morfologi yang sama dengan Selenicereus di California yang bersifat autogami. Jika klon tersebut bersifat selfcompatible maka buah akan terbentuk tanpa penyerbukan silang buatan (Merten 2003).

Menurut Merten (2003) bunga dari klon yang bersifat autogami biasanya dengan penyerbukan sendiri akan menghasilkan buah yang lebih kecil dibandingkan dengan penyerbukan buah naga silang. Di Israel bunga yang bersifat autogami dan self-compatible akan menghasilkan buah yang lebih besar dengan penyerbukan silang dibandingkan penyerbukan sendiri (Lichtenzveig et al. 2000). Penyerbukan silang yang memadai adalah yang menghasilkan buah dengan ukuran dan bobot sekitar 350 gram (H. undatus) lebih besar dibandingkan penyerbukan sendiri dan bobot buah ini berkorelasi positif dengan jumlah biji (Merten 2003).

Lihat Juga : Tanaman Kersen (Muntingia calabura L.)

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *