Pengujian Kandungan Nitrogen Pada Azolla Pinnata

Azolla pinnata merupakan salah satu jenis tumbuhan paku air yang mengapung. Pemanfaatan tumbuhan ini masih sangat sedikit dan keberadaannya masih terbatas oleh lingkungan yang sesuai sehingga perlu upaya untuk mengekplorasi potensi dari Azolla pinnata. Tujuan penelitian ini adalah mempelajari besarnya nilai Total Kandungan Nitrogen (TKN) pada Azolla pinnata sebelum dan sesudah ditumbuhkan dengan media air yang memiliki kadar pupuk organik berbeda.

Tumbuhan Azolla pinnata memerlukan kondisi perairan yang sesuai agar dapat bertahan hidup. Kondisi tersebut harus didukung dengan intensitas cahaya, suhu, dan pH yang sesuai. Faktor penting yang menjadi syarat dalam melakukan budi daya tumbuhan air adalah ketersedian nutrien berupa unsur hara (N dan P) yang cukup. Parameter yang dapat digunakan untuk mengetahui ketersediaan unsur N dalam air adalah ammonia, nitrat, dan nitrit. Unsur N yang tersedia sebaiknya memiliki jumlah yang sedikit karena Azolla pinnata memiliki kemampuan untuk melakukan fiksasi nitrogen dengan bantuan mikrosimbion Anabaena azollae. Pertumbuhan Azolla pinnata diduga dapat tumbuh dengan baik bila didukung dengan ketersediaan unsur P dalam bentuk bahan organik yang sesuai.

Sumber utama bahan organik sebagai penyedia unsur hara bagi pertumbuhan Azolla pinnata dapat diperoleh dari kotoran hewan ternak. Kotoran ayam sebagai pupuk organik diharapkan dapat berfungsi sebagai penyedia unsur hara yang dapat digunakan untuk pertumbuhan Azolla pinnata. Bahan organik tersebut belum dapat dimanfaatkan oleh Azolla pinnata sehingga diperlukan proses dekomposisi dalam air. Proses dekomposisi oleh bakteri akan mengubah bahan organik menjadi bahan anorganik. Unsur hara berupa bahan anorganik yang tersedia dalam air tersebut merupakan nutrien yang dapat langsung dimanfaatkan oleh tumbuhan Azolla pinnata untuk proses pertumbuhan.

Perbedaan konsentrasi P dari kotoran ayam diduga akan menghasilkan total nitrogen yang berbeda. Selama proses pertumbuhan Azolla pinnata akan memanfaatkan nutrien tersebut. Namun apabila pemberian konsentrasi P yang berbeda tidak dapat menghasilkan kandungan nitrogen yang berbeda maka perlu dianalisis kembali kisaran unsur hara yang sesuai. Dengan demikian konsentrasi P pada dosis kotoran ayam yang tepat dapat digunakan untuk meningkatkan nilai kandungan nitrogen jaringan tubuh Azolla pinnata.

Azolla pinnata
Azolla pinnata

Pengujian Pupuk Azolla Pinnata

Pemberian dosis pupuk yang sesuai pada Azolla pinnata dapat menghasilkan bentuk daun dan akar yang segar. Warna daun yang tampak hijau muda serta jumlah akar yang banyak terdapat pada dosis 5 ppm. Kondisi ini diduga karena ketersediaan unsur hara (N dan P) yang cukup. Bentuk daun tampak menumpuk dan saling tumpang tindih. Akar pada Azolla pinnata bersifat mudah patah meskipun memiliki jumlah yang cukup padat.

Nilai biomassa Azolla pinnata pada dosis 5 ppm menggambarkan pertumbuhan yang baik. Peningkatan biomassa yang terjadi pada dosis 5 ppm dapat mencapai nilai maksimum setelah mengalami proses pertumbuhan yang berlangsung selama duapuluh satu hari. Aorora & Saxena (2005) menyatakan bahwa dosis 5 ppm (dosis P dalam bentuk potassium dihydrogen phosphate) merupakan dosis yang optimum untuk menghasilkan biomassa Azolla yang baik.

Pertumbuhan Azolla pinnata juga dapat diukur dengan menggunakan parameter persen penutupan. Nilai biomassa yang paling tinggi dan persen penutupan yang paling luas dibandingkan perlakuan dengan dosis lain terdapat pada 5 ppm. Hasil uji Kjedahl menunjukkan bahwa nilai TKN pada dosis 5 ppm paling besar dibandingkan dosis lainnya.

Hasil uji ANOVA dengan menggunakan rancangan acak lengkap sederhana menunjukkan bahwa pada selang kepercayaan 95% nilai Fhitung > Ftabel. Nilai uji Beda Nyata Terkecil (BNT) pada selang kepercayaan 95% menunjukkan bahwa nilai TKN pada dosis 5 ppm berbeda nyata dengan dosis 0 ppm dan 20 ppm.

Hasil pengukuran parameter amonia, nitrit, dan total fosfat menunjukkan bahwa dosis 20 ppm memiliki nilai rata-rata yang paling tinggi. Pada dosis 0 ppm memiliki nilai konsentrasi amonia yang paling rendah. Pada parameter nitrat, dosis 5 ppm memiliki nilai rata-rata yang paling tinggi, sedangkan dosis 10 ppm memiliki nilai rata-rata nitrat yang paling rendah.

Hasil pengukuran parameter kualitas air menunjukkan bahwa nilai pH, suhu, dan intensitas cahaya masih berada pada kondisi optimum untuk pertumbuhan Azolla pinnata. Kondisi ini juga masih sesuai untuk melakukan fiksasi sehingga dapat menghasilkan kandungan nitrogen pada Azolla pinnata.

Pemberian dosis 5 ppm paling baik untuk pertumbuhan dan dapat menghasilkan kandungan nitrogen paling tinggi dibandingkan dengan perlakuan lain. Dengan demikian upaya untuk menumbuhkan Azolla pinnata sebaiknya dilakukan dengan menggunakan dosis kotoran ayam 5 ppm.

Nilai rata-rata TKN Azolla pinnata pada dosis 0 ppm tidak berbeda nyata dengan dosis 20 ppm, maka keputusan yang diambil adalah gagal tolak H0. Nilai rata-rata TKN pada dosis 5 ppm tidak berbeda nyata dengan dosis 10 ppm, maka keputusan yang diambil adalah gagal tolak H0. Nilai rata-rata TKN pada dosis 5 ppm berbeda nyata dengan dosis 0 ppm, maka keputusan yang diambil adalah tolak H0. Nilai rata-rata TKN pada dosis 10 ppm tidak berbeda nyata dengan dosis 20 ppm, maka keputusan yang diambil adalah gagal tolak H0. Nilai rata-rata TKN pada dosis 10 ppm tidak berbeda nyata dengan dosis 0 ppm, maka keputusan yang diambil adalah gagal tolak H0. Nilai rata-rata TKN pada dosis 5 ppm berbeda nyata dengan dosis 20 ppm, maka keputusan yang diambil adalah tolak H0. Berdasarkan data yang diuji tersebut maka dapat dijelaskan bahwa pengaruh ketersediaan unsur hara berupa dosis kotoran ayam yang berbeda dapat menentukan nilai TKN yang dihasilkan oleh Azolla pinnata. Kemampuan Azolla pinnata yang sangat baik dalam melakukan fiksasi nitrogen terdapat pada dosis 5 ppm dan memiliki nilai rata-rata TKN yang berbeda nyata dengan dosis 0 ppm dan 20 ppm.

Nilai konsentrasi ammonia pada dosis 5 ppm mengalami penurunan hingga akhir pengamatan. Konsentrasi ammonia di dalam air yang menurun diduga terjadi karena ada pemanfaatan langsung oleh Azolla pinnata.

Kesimpulan

Perlakuan dosis kotoran ayam yang diberikan pada setiap media pertumbuhan Azolla pinnata menghasilkan nilai rata-rata kandungan nitrogen yang berbeda. Nilai rata-rata terbesar kandungan nitrogen tersebut dihasilkan oleh Azolla pinnata yang ditumbuhkan pada media air dengan perlakuan dosis kotoran ayam setara dengan 5 ppm P dalam bentuk P2O5.

Materi Tulisan ini diambil dari ADRIAN ARIZAL

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *