Penggunaan Azolla Microphylla dan Lemna Polyrhiza untuk Pakan Itik Peking

Mengkaji interaksi taraf protein dengan penggunaan Azolla microphylla dan Lemna polyrhiza terhadap bobot, persentase karkas dan bagian-bagian karkas itik Peking sampai umur 8 minggu. Selain itu untuk mengetahui level optimal penggunaan protein dan kombinasi Azolla miycrophylla dan Lemna polyrhiza berdasarkan bobot, persentase karkas dan bagian-bagian karkas itik Peking sampai umur 8 minggu.

Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah itik Peking unsexed, Azolla microphylla dan Lemna polyrhiza. Metode penelitian adalah eksperimental in vivo menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) pola faktorial 3 x 4, faktor pertama adalah level protein (p) : p1 = Protein pakan 16%, p2 = Protein pakan 18%, p3 = Protein pakan 20%, faktor kedua adalah kombinasi Azolla microphylla dengan Lemna polyrhiza (al) : al0 = tanpa penggunaan Azolla microphylla dengan Lemna polyrhiza, al1 = 15% Azolla microphylla dengan 5% Lemna polyrhiza, al2 = 10% Azolla microphylla dengan 10% Lemna polyrhiza, al3 = 5% Azolla microphylla dengan 15% Lemna polyrhiza. Terdapat 12 kombinasi perlakuan dengan 3 ulangan. Data dianalisis menggunakan analisis variansi. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa terdapat interaksi taraf protein pakan dengan kombinasi Azolla microphylla dan Lemna polyrhiza terhadap bobot karkas itik Peking sampai umur 8 minggu, akan tetapi tidak pada persentase karkas dan bagian-bagian karkas. Penggunaan level protein pakan yang berbeda dan kombinasi Azolla microphylla dan Lemna polyrhiza (al) menghasilkan bobot karkas, persentase karkas dan bagian-bagian karkas yang relatif sama. Kesimpulan penelitian ini adalah pakan dengan protein 20% dan kombinasi Azolla microphylla 15% dan Lemna Polyrrhiza 5% dapat digunakan unuk meningkatkan bobot karkas itik Peking sampai umur 8 minggu.

Usaha bidang pemeliharaan ternak unggas khususnya itik kini semakin berkembang dengan baik. Itik merupakan jenis unggas yang memiliki potensi dwiguna yaitu sebagai penghasil telur dan daging. Ternak itik merupakan salah satu alternatif yang dapat digunakan untuk mendukung kebutuhan masyarakat akan pangan bergizi. Selain itu, itik memiliki kemampuan lebih tahan terhadap penyakit, dapat dipelihara tanpa dan atau dengan air serta pertumbuhannya lebih cepat dari ayam buras (Srigandono, 1997).
Pengembangan usaha peternakan itik pedaging di Indonesia saat ini masih mengalami berbagai kendala. Salah satu kendala dalam pengembangan usaha peternakan khususnya ternak itik yaitu penyediaan pakan yang berkualitas baik. Kendala dalam penyediaan pakan meliputi ketersediaan bahan baku pakan yang bernilai nutrisi, harga mahal terutama sumber protein dalam pakan yang masih impor seperti tepung ikan dan bungkil kedelai. Pada usaha peternakan biaya pakan mencapai 60%-70% dari total biaya produksi. Untuk menekan biaya pakan tersebut perlu dilakukan usaha untuk mencari sumber bahan baku yang lebih murah, mudah didapat, bergizi baik, tetapi tidak bersaing dengan kebutuhan manusia. Untuk itu perlu digali potensi bahan pakan yang banyak tersedia dalam negeri. Apabila biaya pakan dapat ditekan, maka akan meningkatkan keuntungan peternak dan sekaligus membantu mengembangkan usaha pemeliharaan itik pedaging.
Salah satu cara untuk menekan biaya pakan adalah dengan memanfaatkan Azolla micropylla yang dijadikan bahan pakan alternatif untuk ternak itik pedaging. Disamping Azolla microphylla, Lemna polyrhiza juga dapat dijadikan sebagai bahan pakan alternatif untuk itik pedaging. Azolla microphylla adalah nama tumbuhan paku-pakuan akuatik yang mengapung di permukaan air. Tanaman Azolla memiliki kandungan protein yang cukup tinggi yaitu 28,12 % berat kering (Handajani, 2000), sedangkan Lumpckin dan Plucknet (1982) dalam Djojosuwito (2000) menyatakan kandungan protein pada Azolla sp sebesar 23,42% berat kering dengan komposisi asam amino essensial yang lengkap. Lemna memiliki kesamaan dengan Azolla pada tempat hidupnya yaitu sebagai tumbuhan yang hidup di air. Lemna polyrhiza memiliki kandungan nutrisi lengkap dan baik sebagai pakan, yaitu protein kasar sebesar 13,2%, Serat kasar 11,49%, dan lemak kasar 5,38%. Penggunaan Azolla microphylla dan Lemna polyrhyza serta level protein pakan yang berbeda dalam pakan diharapkan mampu meningkatkan bobot, persentase karkas dan bagian-bagian karkas itik Peking umur 8 minggu, karena dengan penambahan Azolla microphylla dan Lemna polyrrhiza dalam pakan diharapkan mampu memenuhi kebutuhan protein pakan pada itik. Azolla yang digunakan sebagai suplementasi bahan pakan kaya akan nutrisi dan selain tinggi
Fita Septiana Sari dkk/Jurnal Ilmiah Peternakan 1(3):914-923, September 2013
916 protein yaitu sekitar 25-35 %, juga kaya asam amino esensial, vitamin (vitamin A, vitamin B12 dan beta karoten) juga mineral (Ca, P, Fe, dan Mg).
METODE
Materi yang digunakan adalah itik Peking unsexed umur 3 minggu sebanyak 108 ekor, kandang ukuran 75 x 75 x 75 cm sebanyak 36 petak yang berkapasitas 3 ekor, tempat pakan dan minum lengkap sebanyak 36 buah, pakan perlakuan yang terdiri dari : pakan konsentrat, jagung giling, bekatul, ampas tahu, minyak sayur, mineral B12, kapur/limestone, Azolla microphylla dan Lemna polyrhiza kering.
Metode penelitian adalah eksperimental secara in-vivo disusun berdasarkan Rancangan Acak Lengkap pola faktorial 3 x 4, faktor pertama adalah level protein (p) : p1 = Protein pakan 16%, p2 = Protein pakan 18%, p3 = Protein pakan 20%, faktor kedua adalah kombinasi Azolla microphylla dengan Lemna polyrhiza (al) : al0 = tanpa penggunaan Azolla microphylla dan Lemna polyrhiza, al1 = 15% Azolla microphylla dan 5% Lemna polyrhiza, al2 = 10% Azolla microphylla dan 10% Lemna polrrhiza, al3 = 5% Azolla microphylla dan 15% Lemna polyrhiza.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Penelitian Azolla Sebagai Pakan Ternak
Penelitian Azolla Sebagai Pakan Ternak

Bobot Karkas
Karkas adalah bagian tubuh unggas setelah dilakukan penyembelihan secara halal, pencabutan bulu, dan pengeluaran jerohan, tanpa kepala, leher, kaki, paru-paru, dan ginjal (Standar Nasional Indonesia, 2009). Berdasarkan data bobot karkas diperoleh rataan bobot karkas 800,5 ± 55,5 gram yang berkisar antara 701,0 gram sampai 883,3 gram.

Hasil analisis variansi menunjukkan bahwa interaksi level protein dengan kombinasi Azolla microphylla dan Lemna polyrhiza terhadap bobot karkas itik Peking sampai umur 8 minggu berpengaruh sangat nyata (P<0,01). Penggunaan level protein yang berbeda menunjukkan pengaruh yang tidak nyata (P>0,05) terhadap bobot karkas itik Peking sampai umur 8 minggu. Sementara pada kombinasi Azolla microphylla dan Lemna polyrhiza menunjukan pengaruh nyata (P<0,05) terhadap bobot karkas itik Peking sampai umur 8 minggu. Interaksi level protein dengan kombinasi Azolla microphylla dan Lemna polyrhiza menghasilkan bobot karkas tertinggi pada perlakuan p3al1 (protein 20% dengan kombinasi Azolla microphylla 15% dan Lemna polyrhiza 5%) yaitu sebesar 883,3 gram. Hal ini membuktikan bahwa semakin tinggi level protein dengan kombinasi Azolla microphylla 15% dan Lemna polyrhiza 5% akan meningkatkan bobot karkas itik Peking. Protein merupakan komponen penyusun daging sehingga semakin tinggi level protein yang digunakan maka bobot karkas yang diperoleh semakin tinggi. Hal ini didukung oleh pernyataan dari Iskandar, dkk (2000) perlakuan ransum dengan gizi tinggi cenderung memberikan respon yang relatif lebih tinggi terhadap daging. Bintang, dkk (1997) menambahkan kebutuhan protein untuk itik jantan umur delapan minggu sebesar 16% sampai 20%. Azolla dan Lemna memiliki kandungan protein yang cukup tinggi dengan asam amino yang lengkap, hal ini didukung hasil penelitian Yudiakso (1992) dalam Djojosuwito (2000) Azolla mengandung protein 31,25%, dan Lemna 13,2% (hasil uji lab. INMT, 2012). Kandungan protein Azolla yang tinggi tersebut menyebabkan kombinasi Azolla 15% dan Lemna 5% memberikan respon yang lebih baik dibandingkan kombinasi Azolla 10% dan Lemna 10% ataupun dengan kombinasi Azolla 5% dan Lemna 15%. Selain itu, Azolla juga mengandung asam amino yang cukup lengkap seperti thereonine, valine, isoleusine, phenilalanine, tryptopan, glysine, lysine, leusine, methionine, arginine, proline, histidine, systine, tyrosine, alanine, asam aspartat, asam glutamat, dan serine (Lumpkin T.A dan Pluncnett 1982 dalam Djojosuwito 2000), sehingga level protein 20% dengan kombinasi Azolla 15% dan Lemna 5% memberikan respon yang paling baik yaitu dengan menghasilkan bobot karkas paling tinggi.

Uji lanjut menggunakan uji Ortogonal Polynomial. Berdasarkan uji lanjut orthogonal polinomial interaksi kombinasi p dengan al0 menunjukkan pengaruh tidak nyata (P>0,05) terhadap bobot karkas itik Peking umur 8 minggu. Dan menghasilkan kurva respon mengikuti persamaan garis Yal0=1277,3889–24,75x, dengan koefisien determinasi R2=38,02%. Dari kurva terlihat kombinasi p dengan al0 (tanpa kombinasi Azolla microphyla dan Lemna polyrhiza) terjadi penurunan bobot karkas seiring dengan bertambahnya level protein, dengan respon terbaik terjadi pada level protein 16%.
Interaksi kombinasi kombinasi p dengan al1 pada derajat polinom linier menunjukan pengaruh yang sangat nyata (P<0,01) terhadap bobot karkas itik Peking umur 8 minggu, mengikuti persamaan garis Yal1=77,6111+40,4167x, dengan koefisien determinasi R2=60,21%. Kurva menunjukan semakin meningkatnya level protein bobot karkas yang dihasilkan semakin tinggi. Berdasarkan koefisien determinasi (R2) kombinasi level protein dengan al1 memberikan pengaruh sebesar 60,21% terhadap bobot karkas itik peking umur 8 minggu, dengan respon terbaik terjadi pada level protein 20%. Hal ini membuktikan bahwa semakin tinggi level protein dengan kombinasi Azolla microphylla 15% dengan Lemna polyrhiza 5% akan meningkatkan bobot karkas itik Peking, karena Azolla microphylla dan Lemna polyrhiza mempunyai kandungan gizi yang cukup lengkap, serta kandungan protein yang tinggi yaitu pada Azolla microphylla sebesar 31,25% (Yudiakso, 1992 dalam Djojosuwito, 2000) dan Lemna polyrhiza sebesar 13,2% (hasil uji lab INMT, 2012). Selain itu semakin tinggi level protein akan memberikan respon terbaik terhadap bobot karkas. Kandungan protein dalam pakan sangat berpengaruh terhadap pertambahan bobot badan. Hal ini sesuai dengan pendapat Wahyu (1988) protein merupakan zat pakan yang paling penting bagi ternak untuk pembentukan sel-sel baru dan pembesaran ukuran sel sebagai penyebab dari pertambahan bobot badan. Bobot badan yang tinggi akan menghasilkan bobot karkas yang tinggi pula.
Berdasarkan uji lanjut orthogonal poyomial interaksi kombinasi p dengan al2 menunjukkan pengaruh nyata (P<0,05) terhadap bobot karkas itik Peking umur 8 minggu. Dan menghasilkan kurva respon mengikuti persamaan garis Yal2=8741,3333+887,833x, dengan koefisien determinasi R2=49,78%, dan titik minimum (17,996622, 752,33305). Berdasarkan koefisien determinasi kombinasi Azolla microphylla dan Lemna polyrhiza dengan level protein ransum berpengaruh sebesar 49,78% terhadap bobot karkas itik Peking umur 8 minggu, berdasarkan kurva (illustrasi 1) bobot karkas pada level protein ransum 16% lebih tinggi dibandingkan bobot karkas pada level protein 18% karena pada level ini bobot karkas menurun kemudian naik lagi pada level protein 20%.
Kombinasi p dengan al3 menunjukkan pengaruh nyata (P<0,05) pada derajat polinom kuadrater terhadap bobot karkas itik Peking umur 8 minggu. Dan menghasilkan kurva respon mengikuti persamaan garis Yal3=-7937,3333+977,75x, dengan koefisien determinasi R2=53,6%, dan titik maksimum (17,91, 819,87). Berdasarkan koefisien determinasi kombinasi Azolla microphylla dan Lemna polyrhiza dengan level protein ransum berpengaruh sebesar 53,6% terhadap bobot karkas itik Peking umur 8 minggu, berdasarkan kurva (illustrasi 1) bobot karkas pada level protein ransum 18% lebih tinggi dibandingkan bobot karkas pada level protein 16% dan 20% dan titik maksimum protein 17,91 dengan bobot karkas 891,7 gram. Setiap kombinasi memberikan respon yang berbeda-beda hal ini dikarenakan pada setiap pakan perlakuan mengandung nutrien yang berbeda-beda sehingga menghasilkan bobot karkas yang berbeda-beda pula. Selain itu jugadikarenakan tingkat konsumsi yang berbeda-beda pada setiap itik sehingga bobot badan yang dihasilkan berbeda-beda pula, ini menyebabkan bobot karkas yang dihasilkan juga berbeda-beda. Semakin tinggi tingkat konsumsi ransum maka semakin tinggi pula bobot badan dan bobot karkas yang dihasilkan.
Persentase Karkas
Persentase karkas adalah perbandingan antara bobot karkas dengan bobot hidup dikalikan seratus persen (Ensminger, 1980). Hasil penelitian persentase karkas itik Peking umur delapan minggu diperoleh rataan persentase karkas secara keseluruhan sebesar 52,1±3,0% dengan kisaran 49,0% sampai 55,7%
Hasil analisis variansi menunjukkan bahwa interaksi level protein dengan kombinasi Azolla microphylla dan Lemna polyrhiza dalam ransum itik Peking berpengaruh tidak nyata (P>0,05) terhadap persentase karkas itik peking umur 8 minggu. Level protein pakan yang berbeda berpengaruh tidak nyata (P>0,05) terhadap persentase karkas itik Peking umur 8 minggu. Sementara kombinasi Azolla microphylla dan Lemna polyrhiza juga menunjukkan pengaruh yang tidak nyata (P>0,05) terhadap persentase karkas itik Peking umur 8 minggu. Faktor yang menyebabkan persentase karkas relatif sama dimungkinkan karena bangsa, kondisi lingkungan dan pakan yang diberikan sama sehingga menghasilkan persentase yang relatif sama. Hal ini sesuai dengan pendapat Soeparno (1998) yang menyatakan bahwa faktor-faktor yang dapat mempengaruhi persentase karkas seekor ternak terdiri atas bangsa, kondisi fisik, bobot badan dan pakan.

Selain itu dimungkinkan karena serat kasar yang terkandung dalam Azolla micropylla dan Lemna polyrhiza yang diberikan pada itik masih mampu dicerna dengan baik sehingga nutrien yang ada di dalamnya tidak ada pebedaan antara pakan yang mengandung kombinasi Azolla micropylla dan Lemna polyrhiza dengan pakan tanpa kombinasi Azolla micropylla dan Lemna polyrhiza karena serat kasar yang ada dalam pakan masih dapat dicerna dengan baik. Kandungan serat kasar Azolla micropylla sebesar 13% (Yudiakso, 1992 dalam Djojosuwito, 2000) dan Lemna polyrhiza 11,49% (hasil uji lab. INMT, 2012). Menurut Sumiati dan Nurhaya (2003) bahwa itik mampu mencerna kayambang yang memiliki kandungan serat kasar sebesar 17,21%. Hal ini menunjukkan bahwa itik mampu mencerna serat kasar yang terkandung dalam Azolla microphylla dan Lemna polyrhiza, sehingga itik masih dapat menyerap nutrisi didalamnya.
Persentase Bagian-bagian Karkas
Bagian-bagian karkas unggas dibagi menjadi 4 bagian yaitu dada, paha, punggung, dan sayap. Hasil penelitian pengaruh penggunaan Azolla microphylla dan Lemna polyrhiza dengan level protein yang berbeda terhadap persentase bagian-bagian karkas itik Peking sampai dengan minggu ke 8 disajikan pada Tabel 2.
Bagian dada merupakan potongan komersial yang banyak mengandung daging. Bagian dada memiliki daging yang lebih empuk dan sedikit mengandung lemak. Dari hasil penelitian berdasarkan data persentase karkas bagian dada itik Peking umur 8 minggu diperoleh rataan persentase dada sebesar 27,25±1,54% yang berkisar antara 25,37% sampai 30,13% (Tabel 2). Hasil analisis variansi menunjukkan bahwa interaksi level protein dengan kombinasi Azolla microphylla dan Lemna polyrhiza dalam ransum itik Peking berpengaruh tidak nyata (P>0,05) terhadap persentase dada itik Peking umur 8 minggu. Level protein yang berbeda dan kombinasi Azolla microphylla dan

Lemna polyrhiza juga menunjukkan pengaruh tidak nyata (P>0,05). Pakan dengan penggunaan level protein yang berbeda dengan kombinasi Azolla microphylla dan Lemna polyrhiza akan menghasilkan persentase dada itik Peking pada umur 8 minggu yang relatif sama. Menurut Anggraeni (1999) dinyatakan bahwa pertumbuhan bagian dada relatif konstan hingga umur 12 minggu. Persentase irisan dada pada itik dan entok umur 12 minggu relatif tinggi karena dada merupakan komponen yang masak lambat.

Rataan persentase punggung itik Peking umur 8 minggu sebesar 28,86±1,01% berkisar antara 26,33% sampai 30,81% (Tabel 2). Hasil analisis variansi menunjukkan bahwa interaksi level protein dengan kombinasi Azolla microphylla dan Lemna polyrhiza dalam ransum itik Peking berpengaruh tidak nyata (P>0,05) terhadap persentase punggung itik peking umur 8 minggu. Penggunaan level protein yang berbeda berpengaruh tidak nyata (P>0,05) terhadap persentase punggung itik peking umur 8 minggu. Sementara kombinasi Azolla microphylla dan Lemna polyrhiza juga menunjukkan pengaruh tidak nyata (P>0,05). Pakan dengan level protein yang berbeda dan kombinasi Azolla microphylla dan Lemna polyrhiza akan menghasilkan persentase punggung itik Peking pada umur 8 minggu yang relatif sama. Punggung merupakan bagian yang didominasi oleh tulang, selama pertumbuhan tulang tumbuh secara kontinu dengan kadar laju pertumbuhan relatif lambat. Pertumbuhan tulang erat kaitanya dengan kandungan mineral dalam pakan. Pakan yang digunakan dalam penelitian ini mempunyai kandungan mineral yang relatif sama, sehingga diperoleh persentase punggung yang relatif sama. Hal ini sesuai dengan pendapat Basoeki (1983) disitasi Resnawati (2004) yang mengemukakan bahwa punggung lebih banyak mengandung jaringan tulang, sehingga kandungan mineral dalam pakan lebih berpengaruh terhadap bobot punggung dibandingkan dengan protein.
Paha merupakan salah satu bagian potongan karkas komersial. Paha utuh terdiri dari dua bagian, yaitu paha bagian atas dan paha bagian bawah. Pada penelitian ini persentase bobot paha diukur secara utuh tanpa dipisahkan menjadi paha bagian atas dan bawah. Rataan persentase paha itik Peking umur 8 minggu diperoleh rataan persentase paha sebesar 27,74±0,99% yang berkisar antara 26,67% sampai 29,58% (Tabel 2). Hasil analisis variansi menunjukkan bahwa interaksi level protein dengan kombinasi Azolla microphylla dan Lemna polyrhiza terhadap persentase paha itik Peking sampai umur 8 minggu berpengaruh tidak nyata (P>0,05). Penggunaan level protein yang berbeda menunjukkan pengaruh yang nyata (P<0,05) sedangkan pada kombinasi Azolla microphylla dan Lemna polyrhiza menunjukan pengaruh tidak nyata (P>0,05). Uji lanjut dengan menggunakan uji Beda Nyata Jujur terhadap penggunaan level protein yang berbeda. Hasil analisis variansi terhadap uji lanjut beda nyata jujur menunjukkan pengaruh nyata (P<0,05) pada p1 dengan p3, pada derajat polinom linier. Dari kurva dapat dilihat bahwa semakin tinggi level protein yang digunakan persentase paha yang dihasilkan semakin rendah, hal tersebut menunjukan level protein 16% mampu memenuhi kebutuhan protein untuk pertumbuhan paha dan menghasilkan persentase paha tertinggi.

Rataan persentase sayap itik Peking umur 8 minggu diperoleh rataan persentase sayap sebesar 15,56±1,05% yang berkisar antara 14,49% sampai 17,12% (Tabel 2). Hasil analisis variansi menunjukkan bahwa level protein dengan kombinasi Azolla microphylla dan Lemna polyrhiza dalam ransum itik Peking berpengaruh tidak nyata (P>0,05) terhadap persentase sayap itik Peking umur 8 minggu. Penggunaan level protein yang berbeda berpengaruh tidak nyata (P>0,05) terhadap persentase sayap itik Peking umur 8 minggu. Sementara kombinasi Azolla microphylla dan Lemna polyrhiza juga menunjukkan pengaruh tidak nyata (P>0,05). Pakan dengan level protein yang berbeda dengan kombinasi Azolla microphylla dan Lemna polyrhiza akan menghasilkan persentase sayap itik Peking pada umur 8 minggu yang relatif sama. Sayap merupakan komponen yang masak lambat. Menurut Anggraeni (1999) dinyatakan bahwa pertumbuhan sayap hingga umur 12 minggu relatif konstan, sehingga mengasilkan persentase sayap yang relatif sama.

Peternakan Organik Azolla
Peternakan Organik Azolla Microphylla

Giblet merupakan komponen yang dapat dimakan, terdiri dari hati, jantung dan ampela. Rataan persentase giblet itik Peking umur 8 minggu diperoleh sebesar 13,82±1,57% dengan kisaran 12,07% sampai 16,21% (Tabel 2). Hasil analisis variansi menunjukkan bahwa level protein dengan kombinasi Azolla microphylla dan Lemna polyrhiza terhadap bobot giblet itik Peking sampai umur 8 minggu berpengaruh tidak nyata (P>0,05). Penggunaan level protein yang berbeda dan kombinasi Azolla microphylla dan Lemna polyrhiza juga menunjukkan pengaruh yang tidak nyata (P>0,05). Pakan dengan level protein yang berbeda dengan kombinasi Azolla microphylla dan Lemna polyrhiza akan menghasilkan bobot giblet yang relatif sama. Komponen giblet cenderung menurun dengan bertambahnya umur. Hal ini disebabkan karena giblet merupakan organ yang mengalami pertumbuhan dini sehingga pada umur muda terhadap bobot potong relatif lebih besar.

SIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa terdapat interaksi taraf protein pakan dengan kombinasi Azolla microphylla dan Lemna polyrhiza terhadap bobot karkas itik Peking sampai umur 8 minggu, akan tetapi tidak pada persentase karkas dan bagian-bagian karkas. Penggunaan level protein pakan yang berbeda dan kombinasi Azolla microphylla dan Lemna polyrhiza (al) menghasilkan bobot karkas, persentase karkas dan bagian-bagian karkas yang relatif sama. Pakan dengan protein 20% dan kombinasi Azolla microphylla 15% dan Lemna Polyrrhiza 5% dapat digunakan unuk meningkatkan bobot karkas itik Peking sampai umur 8 minggu.

Sumber Tulisan Fita Septiana Sari dkk/Jurnal Ilmiah Peternakan

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *