Pemupukan Bio Organik Pada Tanaman Sawi

Pemakaian pupuk anorganik secara berlebihan dan terus-menerus dalam bidang pertanian tenyata memunculkan efek ketergantungan. Di satu sisi harga pupuk anorganik tersebut semakin hari semakin mahal dan di sisi lain diperlukan adanya peningkatan produksi pertanian guna memenuhi kebutuhan masyarakat secara kontinyu. Tingkat konsumsi pupuk anorganik pun semakin meningkat yang dapat memicu kelangkaan penyediaan pupuk. Selain itu juga menimbulkan perilaku ketergantungan pada pemakaian pupuk anorganik secara terus-menerus yang mengakibatkan ketidakseimbangan antara supply and demand.

Menurut Indriani (2004) pupuk anorganik dapat menimbulkan ketergantungan dan dapat membawa dampak kurang baik, misalnya tanah menjadi rusak akibat penggunaan yang berlebihan dan terus-menerus akan menyebabkan tanah menjadi keras, air tercemar, dan keseimbangan alam akan terganggu. Selain itu menurut Direktur Jenderal Perkebunan Departemen Pertanian (2012) bahwa dampak negatif dari penggunaan agrokimia (pertanian dengan pupuk anorganik berlebihan) antara lain berupa pencemaran air, tanah, dan hasil pertanian, gangguan kesehatan petani, menurunnya keanekaragaman hayati, ketidak berdayaan petani dalam pengadaan bibit, pupuk anorganik dan dalam menentukan komoditas yang akan ditanam. Tentu saja kondisi demikian menngganggu keberlangsungan agroekosistem.

Oleh karena itu dibutuhkan asupan unsur hara yang bisa mereduksi pemakaian pupuk organik dengan alternatif sumber N lain yang berguna dan efektif bagi pertumbuhan tanaman dan tentunya aman bagi lingkungan.

Selama ini, banyak tumbuhan di sekitar kita yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber N. Salah satunya Azolla pinnata yang memiliki kandungan N cukup tinggi dan berguna bagi tanaman baik tanaman semusim maupun tanaman tahunan. Azolla pinnata mengandung N 2,55-3,95% (Laboratorium Bioteknologi Pertanian UMM, 2003).

Tanaman Sawi
Tanaman Sawi

Salah satu tanaman semusim yang cukup komersial dan popular dari golongan sayuran yakni tanaman sawi (Brassica juncea L). Bagian tanaman ini yang dikonsumsi adalah bagian daun sehingga pupuk yang diberikan sebaiknya mengandung N (Nitrogen) tinggi. Pemupukan nitrogen secara berlebihan juga kurang efektif dikarenakan sifat volatile pupuk nitrogen yang tinggi. Dari segi tingkat produktifitas sayuran sawi dalam negeri masih tergolong rendah. Pada tahun 2012 luas areal panen dan produksi tanaman sawi masih rendah yakni luas real panen masih minus 0,70 % (defisit) dan produksinya sendiri cukup rendah yakni hanya 2,39 % (Kementerian Pertanian Republik Indonesia, 2012), jika data tersebut telah dikomparasi dengan 25 jenis hortikultura pokok lainnya.

Pemupukan Azolla

  1. Perlakuan pemupukan 120 kg N kompos Azolla pinnata/hektar (P7) menghasilkan panjang akar dan berat segar tanaman paling optimal dan kompos Azolla pinnata mampu menggantikan pupuk N anorganik Urea yang setara dengan 120 kg N /hektar.
  2. Perlakuan pemupukan 20 kg N Urea + 100 kg N kompos Azolla pinnata./hektar (P6) menghasilkan nilai Laju Asimilasi Bersih (LAB) , Laju Pertumbuhan Relatif (LPR) , dan berat kering daun tanaman yang paling optimal, dan biomassa kompos Azolla pinnata mampu mereduksi pupuk N anorganik yang setara dengan 100 kg N /hektar.
  3. Pupuk Azolla pinnata bisa menggantikan sebagian atau keseluruhan kebutuhan nitrogen tanaman sawi.

Ketepatan fungsi kompos Azolla pinnata sebagai penyuplai unsur hara pada tanaman dan tanah serta peningkatan kesuburan tanah maka perlu dilakukan penelitian di lapangan serta pada tanah marginal yang minim unsur hara

Lihat juga:  Pupuk Organik Azolla Pada Tanaman Sawi Bagian Kedua dari Materi Penelitian Ini


Sumber Tulisan :  Muhammad Aksan
Judul Materi :  THE RECITATION OF UTILIZATION Azolla pinnata COMPOST TO REDUCE DOSE NITROGEN INORGANIC FERTILIZER IN MUSTARD (Brassica juncea L) GROWTH AND YIELD
Kata kunci :  mustard, inorganic fertilizer, Azolla pinnata, compost, urea

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *