Pelet herbal buatan dengan bahan baku utama tumbuhan

Pakan buatan pelet herbal adalah salah satu faktor penting dalam usaha budidaya ikan intensif karena merupakan biaya variabel terbesar dalam proses produksi ikan intensif yakni 30 % – 60 % (Webster dan Liem, 2002). Salah satu kendala yang dihadapi dalam pembuatan pakan adalah ketersediaan bahan baku yang sebagian besar masih diimpor dari luar negeri. Data Direktorat Produksi, Dirjen Perikanan Budidaya, Kementrian Kelautan dan Perikanan (2009) menyatakan bahwa bahan baku pakan ikan yang diimpor tersebut antara lain adalah tepung ikan, tepung cumi, tepung krustasea, meat bone meal (MBM), poultry meat meal (PMM), tepung kedelai, terigu, serta berbagai jenis vitamin dan mineral dengan total nilai impor pada tahun 2008 mencapai US$ 132.367.966,81. Oleh karena itu, perlu dicari bahan baku pakan alternatif yang murah, berkualitas, dan dapat tersedia sepanjang waktu.

Pelet herbal merupakan pakan ikan buatan dengan bahan baku utama berbasis tumbuhan. Beberapa jenis dedaunan (herbal) mempunyai potensi untuk

dapat dipergunakan sebagai bahan baku pakan karena memenuhi beberapa persyaratan seperti kandungan nutrisi yang cukup memadai, tersedia sepanjang tahun dalam jumlah yang cukup, serta relatif murah harganya. Dedaunan yang akan digunakan sebagai bahan baku pelet herbal sebaiknya tidak bersaing dengan kebutuhan manusia dan memiliki kandungan gizi yang baik. Daun mata lele Azolla sp. digunakan sebagai bahan baku pelet herbal yang mempunyai kandungan nutrien yang baik meliputi (dalam berat kering) 10-25 % protein, 10-15 % mineral dan 7-10 % asam amino (Marhadi, 2009).

Kendala utama dalam pemanfaatan bahan nabati termasuk daun mata lele sebagai bahan baku pakan ikan adalah tingginya kandungan serat kasar mencapai 23,06 % (Handajani, 2006 dalam Handajani, 2007) dan adanya kandungan zat anti-nutrisi serta komposisi asam amino yang berbeda dengan bahan baku protein hewani. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasi kendala tersebut adalah dengan teknologi fermentasi. Proses fermentasi terutama untuk bahanbahan herbal umumnya memerlukan substrat. Salah satu bahan yang dapat digunakan sebagai substrat adalah onggok yang merupakan limbah padat dari proses agro industri pembuatan tepung tapioka. Onggok dapat dijadikan sebagai sumber karbon dalam suatu media karena masih banyak mengandung pati (75 %) yang tidak terekstrak, tetapi kandungan protein kasarnya rendah yaitu, 1,04 % berat kering (Supriyadi, 2009).

Salah satu jenis kapang yang dapat digunakan untuk menurunkan kadar serat kasar pada daun mata lele adalah Trichoderma harzianum. Menurut Alexander (1977), T. harzianum merupakan kapang selulolitik karena mampu menghasilkan senyawa selulase yang dapat menghidrolisis selulosa menjadi senyawa yang lebih sederhana. Sifat dari kapang ini tidak toksik, mudah dalam aplikasi, serta dapat diproduksi dalam jumlah besar. Kapang ini selama 8 hari dapat menurunkan serat kasar pada sebesar 44,28 % serta meningkatkan kadar protein kasar sebesar 15,06 % (Indariyanti, et al., 2011).

Ikan nila Oreochromis sp. merupakan ikan omnivor yang mudah beradaptasi dengan jenis pakan yang dicampur dengan berbagai sumber bahan nabati seperti tepung bungkil kedelai, tepung jagung, tepung biji kapuk, tepung pollard, tepung eceng gondok, tepung alfalfa, serta tepung dari berbagai jenis tanaman legumes seperti daun lamtoro (El-Sayed dan Fattah, 1999). Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP) menargetkan produksi ikan nila tahun 2011 sebanyak 639.300 ton. Jumlah ini naik sekitar 36,26% dari tahun 2010 yang sebanyak 469.173 ton (Anonim1, 2011). Hal ini disebabkan karena daging ikan nila sangat digemari pasar dunia karena warna dagingnya putih bersih, kenyal, dan tebal (Caroko, et al., 2010). Jumlah daun mata lele optimal di dalam pakan ikan masih memerlukan berbagai penelitian lebih lanjut karena tergantung pada beberapa faktor antara lain jenis daun, jenis ikan serta sistem teknologi yang dipakai. Oleh karena itu, penelitian mengenai pemakaian daun mata lele Azolla sp. dalam pakan ikan nila Oreochromis sp. ini perlu untuk dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh alternatif bahan baku pakan ikan nila dari bahan herbal yang berkualitas. Selain itu, penelitian ini juga dilakukan untuk mengetahui dosis optimal daun mata lele Azolla sp. yang difermentasi menggunakan kapang Trichoderma harzianum dalam pakan ikan nila Oreochromis sp.


Sumber Materi : NURFADHILAH
Judul Materi : Pemakaian Hasil Fermentasi Daun Mata Lele Azolla sp. sebagai Bahan Baku Pakan Ikan Nila Oreochromis sp
Kata kunci : Azolla sp., fermentasi, ikan nila

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *