Menggunakan Pupuk Ekstrak Azolla Microphylla pada Tanaman Sawi

Pengembangan hortikultura dimasa mendatang diarahkan untuk dapat mengembangkan sistem agribisnis dan agroindustri. Salah satu komoditas hortikultura dari kelompok sayuran yang mempunyai prospek baik dan nilai ekonomi tinggi adalah sawi (Rukmana, 1995). Sawi merupakan jenis sayuran yang digemari oleh masyarakat Indonesia. Konsumennya mulai dari golongan masyarakat kelas bawah hingga golongan masyarakat kelas atas, sayuran sawi yang dikonsumsi baik setelah diolah maupun lalapan (Haryanto, 1995).

Perkembangan sistem pertanian organik di Indonesia, mengakibatkan kebutuhan akan pupuk organik semakin meningkat, demikian juga kesadaran petani tentang pentingnya pupuk organik yang dapat memperbaiki kualitas dan kesuburan tanah. Pertanian organik atau budidaya tanaman secara organik dapat diartikan sebagai suatu sistem produksi pertanaman yang berazaskan daur ulang secara hayati. Daur ulang hara dapat melalui sarana limbah pertanaman dan ternak, serta limbah lainnya yang mampu memperbaiki status kesuburan dan struktur tanah. Daur ulang hara merupakan teknologi tradisional yang sudah cukup lama (von Uexkull dan Beaton, 1991). Sistem pertanian atau budidaya organik merupakan salah satu alternatif solusi untuk membatasi kemungkinan dampak negatif yang ditimbulkan akibat budidaya kimia.

Tanaman sawi agar dapat tumbuh baik, mendapatkan hasil yang tinggi dan kualitas baik, perlu diusahakan tersedianya persyaratan tumbuh yang sebaik-baiknya. Syarat utama adalah  tanaman harus mendapatkan hara yang cukup selama pertumbuhannya (Rinsemena, 1993).

Pasir sering digunakan sebagai media tanam alternatif untuk menggantikan fungsi tanah. Sejauh ini, pasir dianggap memadai dan sesuai jika digunakan sebagai media untuk penyemaian benih, pertumbuhan bibit tanaman, dan perakaran setek batang tanaman. Salah satu sumber nitrogen yang masih sedikit dimanfaatkan di Indonesia adalah tanaman paku air tawar, azolla bersimbiose dengan gangang biru anabaena. Azolla mampu menambat nitrogen dari udara, ke dalam bentuk amonia yang dapat diserap tanaman padi saat diinkorporasikan ke dalam tanah. Azolla mengandung 2-5 % N, 3-6 % K (bahan kering), sehingga tanaman ini dinilai berpotensial tinggi untuk memperkaya nitrogen tanah, bila dibenamkan ke dalam tanah.

Azolla merupakan jenis tanaman paku air yang hidup di lingkungan perairan dan sebarannya cukup luas seperti halnya tanaman leguminose. Azolla mampu menambat N2 udara karena berasosiasi dengan Sianobakter yang hidup dalam rongga daunnya. Asosiasi azolla dengan anabaena memanfaatkan energi yang berasal dari hasil fotosintesis untuk mengikat N2 udara.

Larutan nutrisi dalam media berpenggaruh terhadap karakter fisiologi tanaman yang dibudidayakan. Penyerapan nutrisi oleh tanaman dipengaruhi oleh kondisi lingkungan sekitar tumbuh, termasuk oleh konsentrasi larutan nutrisi dalam media tumbuh. Setiap tanaman memiliki batas konsentrasi optimum dalam menyerap nutrisi bagi pertumbuhannya, dimana tanaman akan defisiensi bila nutrisi tersebut tidak mencukupi kebutuhannya dan mengalami toksik atau keracunan bila nutrisi tersedia melebihi ambang batas kebutuhannya. Konsentrasi yang berbeda akan menghasilkan karakter fisiologi yang berbeda, sehingga perlu dilakukan percobaan untuk mengetahui dosis yang tepat (Suraya, 2006)

Azolla digunakan sebagai sumber nutrisi bagi tanaman karena di dalamnya mengandung banyak unsur makro dan mikro walaupun dalam jumlah yang relatif sedikit, dari sudut pandang lain, penggunaan azolla merupakan langkah awal menuju ke arah pertanian organik, dengan penambahan azolla ke dalam tanah dalam jangka waktu lama diharapkan akan dapat meningkatkan hasil dan memperbaiki sifat fisika, kimia serta biologi tanah. Namun cara ini tergolong sedikit lama karena padatan azolla yang dibenamkan ke dalam media tanam harus melalui proses dekomposisi bahan organik terlebih dahulu sebelum dapat digunakan oleh tanaman, maka dari itu untuk mempercepat penggunaan nutrisi yang terdapat dalam padatan azolla dibuatlah ekstrak azolla yang mempunyai C/N rasio lebih rendah, dan pemberian ekstrak ke dalam media tanam dapat langsung dipergunakan tanaman tanpa harus menunggu proses dekomposisi.

# Perumusan Masalah

Peningkatan produksi tanaman sawi yang sehat dan tersedia setiap saat sangat diperlukan, namun usaha ini mengalami kendala bila dbudidayakan dilahan pertanian dengan ketersediaan hara yang tidak menentu, maka salah satu upaya adalah dengan menggunakan pasir sebagai media tanam. Pemberian larutan nutrisi merupakan kunci utama, sebab larutan ini adalah sumber pasokan nutrisi yang berpengaruh terhadap karakter fisiologi tanaman. Untuk sumber nutrisi tanaman digunakan ekstrak azolla, karena mengandung unsur makro dan mikro walaupun dalam jumlah yang relatif sedikit, namun mampu memberikan kontribusi hara bagi tanaman.

Azolla adalah salah satu sumber nutrisi dengan kandungan hara dalam persentase berat kering menurut Khan (1988), nitrogen (4-5 %), fosfor (0,5-0,9%),  kalium (2-4,5 %), dan karena C/N rasio tergolong rendah 9-13 azolla dapat langsung diaplikasikan sebagai pupuk bagi tanaman, tetapi sedikit membutuhkan waktu untuk proses dekomposisi agar dapat digunakan oleh tanaman, oleh sebab itu dengan pengekstrakan azolla diharapkan penyediaan hara dapat langsung digunakan oleh tanaman, karena masih terkandung unsur hara yang dibutuhkan tanaman baik dengan pemberian langsung ke dalam media tanam maupun sebagai pupuk daun yang diberikan dengan cara penyemprotan. Untuk sumber nutrisi tanaman digunakan ekstrak azolla yang diberikan secara langsung ke dalam media tanam, karena mengandung unsur makro dan mikro walaupun dalam jumlah yang relatif sedikit dibandingkan dengan azolla segar, karena unsur hara yang terdapat dalam ekstrak terbagi dalam padatan dan cairan azolla, namun kontribusi nutrisi ekstrak azolla perlu diketahui dosis yang tepat untuk mendapatkan hasil tanaman yang diinginkan.

# Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pemberian dosis dan interval ekstrak Azolla microphylla terhadap hasil dan serapan hara tanaman sawi  pada media pasir.

# Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi mengenai manfaat  ekstrak Azolla microphylla sebagai alternatif sumber nutrisi tanaman yang dapat meningkatkan pertumbuhan dan hasil tanaman sawi pada media pasir, serta dapat mengetahui efektivitas penggunaan ekstrak azolla microphylla agar mendapatkan hasil yang optimum.

Residu Extrak Azolla.
Residu Extrak Azolla

# Tahap Pembuatan Ekstrak

  1. Pembibitan dan perawatan Azolla microphylla dikolam ukuran 2×2 m.
  2. Pemanenan Azolla microphylla dapat dilakukan dua minggu sekali.
  3. Hasil panen Azolla microphylla kemudian diatuskan hingga tidak ada air  yang menetes + 2 hari.
  4. Menimbang Azolla microphylla dengan berat basah 1 kg.
  5. Blender Azolla microphylla sampai halus dengan penambahan 50 ml aquades.
  6. Memeras Azolla microphylla hingga ampas dan ekstrak terpisah.
  7. Menyaring ekstrak Azolla microphylla hingga tidak ada sisa ampas yang bercampur.
  8. Akan didapatkan + 750 ml ektrak Azolla microphylla dan + 250 gram ampas Azolla microphylla.

# Pembibitan

Persiapan media pembibitan tanaman sawi adalah dengan menggunakan bak berisi ampas Azolla microphylla, kemudian benih disebar ke dalam bak. Setelah  bibit berumur sepuluh hari atau tanaman sudah memiliki empat helai daun, maka bibit siap untuk dipindahkan. Pemindahan bibit dilakukan dari bak persemaian ke dalam timba yang berisi pasir steril. Bibit  yang baik mempunyai ciri-ciri yaitu batang tumbuh tegak, daun hijau mengkilap dan tidak terlihat adanya hama atau penyakit.

# Persiapan Media Tanam

Media tanam menggunakan pasir yang disterilkan dari kandungan lempung dan debu dengan cara dicuci dengan air hingga bersih tujuannya adalah agar hara yang bercampur  di dalam pasir dapat ikut tercuci. Berat pasir adalah 4 kg/timba dan dibutuhkan sebanyak 30 timba, jumlah total kebutuhan pasir adalah 4kg x 30 = 120 kg.

# Penanaman

Bibit tanaman sawi yang telah berumur sepuluh hari atau telah memiliki empat helai daun siap ditanam pada media tanam pasir steril dengan kedalaman   + 3 cm dan tiap lubang ditanami dengan satu tanaman, dalam satu timba berisi dua tanaman.

Ekstrak Azolla Digunakan Untuk Pupuk
Ekstrak Azolla Digunakan Untuk Pupuk

# Pemupukan

Perhitungan penentuan dosis pemupukan tanaman sawi:

Kandungan hara dalam
Urea    = 45- 46 %
SP-36 = 36 %
KCl     = 49-53 %

Tanaman sawi membutuhkan
Urea 150 kg/ha
SP-36 125 kg/ha
KCl 100 kg/ha

Media Tanam dan Dikukan Pemupukan
Media Tanam dan Dikukan Pemupukan

# Pemeliharaan

Pemeliharaan tanaman terdiri dari penyiraman dan penyiangan terhadap gulma yang tumbuh di sekitar     tanaman. Penyiraman dilakukan dua kali sehari, dengan pedoman media tanam berupa pasir berada pada 100 % kapasitas lapang atau dikembalikan pada berat awal.

Jumlah air yang diberikan diperoleh dari perhitungan sebagai berikut:

= (kadar air kapasitas lapang – kadar air kering angin) x berat pasir
= (30 % – 12 %) x 4 kg
= 0,72 kg

Berat awal tanaman diperoleh dari perhitungan sebagai berikut:

= (jumlah air yang diberikan + berat media tanam) x BJ air
= ( 0,72 kg + 4 kg) x 1
= 4,72 kg

Berat pot pada waktu panen (n)
Berat awal tanam = ( n – 4,72 kg)
Penyiangan dilakukan secara manual dengan mencabut gulma yang tumbuh di sekitar tanaman

Sawi Dengan pupuk Azolla Umur 2 Minggu
Tanaman Sawi Dengan pupuk Ekstrak Azolla Umur 2 Minggu

# Pemanenan

Panen dilakukan setelah tanaman sawi berumur 40 hari dengan cara memotong pangkal batang di atas permukaan media tanam pada pagi hari sebelum matahari terbit.

# Analisis Pendahuluan

1. Kadar air pasir pada kering angin
2. Kadar air pasir pada kapasitas lapang
3. Kandungan N ekstrak Azolla microphylla
4. Kandungan P ekstrak Azolla microphylla
5. Kandungan K ekstrak Azolla microphylla

# Pengamatan Setelah Percobaan

Pengamatan pada tanaman, meliputi beberapa parameter:

  1. Tinggi tanaman (cm) yang diukur dari pangkal tanaman hingga ujung daun terpanjang.
  2. Berat basah tanaman (gram) seluruh bagian tanaman ditimbang setelah dicuci bersih.
  3. Berat kering tanaman (gram) yang telah bersih di oven selama 72 jam dengan suhu antara 60-800C.
  4. Serapan Nitrogen pada jaringan tanaman sawi.
  5. Serapan Fosfor pada jaringan tanaman sawi.
  6. Serapan Kalium pada jaringan tanaman sawi.

# Analisis Data

Analisis data dengan analisis sidik ragam untuk mengetahui interaksi dan pengaruh pemberian ekstrak Azolla microphylla terhadap hasil dan serapan Nitrogen, Kalium dan Fosfor pada pertumbuhan tanaman sawi dan dilanjutkan dengan uji DMRT (Duncan Multiple Range Test) taraf  5 %.

# Simpulan

Berdasarkan hasil penelitian disimpulkan bahwa:

  1. Pemberian ekstrak Azolla microphylla di dalam media pasir berpengaruh terhadap peningkatan serapan N, P, K, berat basah, berat kering, kadar air dan tinggi tanaman sawi.
  2. Interval penambahan ekstrak Azolla microphylla berpengaruh nyata, penambahan ekstrak azolla dengan interval satu minggu sekali dapat memberikan nilai serapan tertinggi pada N, K, berat kering, dan kadar air, sedangkan pada pemberian ekstrak Azolla microphylla pada interval satu minggu dua kali memberikan nilai serapan tertinggi hanya pada P dan berat basah tanaman sawi.
  3. Pada perlakuan dosis 60 ml dengan interval satu minggu sekali (D4I1) mampu meningkatkan serapan N (133,509 mg/tanaman), K (205,505 mg/tanaman), sedangkan pada perlakuan dosis 60 ml dengan interval satu minggu dua kali (D4I2) mampu meningkatkan serapan P sebesar (10,498 mg/tanaman).

# Saran

  1. Pembuatan ekstrak azolla sebaiknya menggunakan bahan yang masih segar karena akan mempengaruhi kadar air azolla.
  2. Ekstrak azolla sebaiknya ditutup yang rapat dan didiamkan pada lemari pendingin ini diharapkan agar di dalam ekstrak tidak terjadi fermentasi yang mengakibatkan hilangnya N didalam ekstrak.
  3. Dalam pembuatan ekstrak azolla didapatkan sisa bahan organik berupa padatan yang dapat digunakan sebagai pupuk, oleh karena itu perlu diadakan penelitian lanjutan untuk mengetahui potensi ampas azolla untuk penyediaan hara terhadap tanaman, selain itu azolla merupakan bahan organik yang mempunyai kandungan nitrogen yang tinggi dan memiliki C/N ratio rendah, maka perlu diadakan kajian tentang senyawa asam humik yang terkandung di dalam azolla, karena asam-asam organik adalah senyawa penting yang dibutuhkan oleh tanaman.

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *