Limbah Tahu Padat Untuk Campuran Kompos

Penggunaan limbah tahu padat dengan campuran kompos gamal, kompos azolla, pupuk guano, dan abu serabut kelapa dapat menggantikan penggunaan pupuk NPK anorganik.

Industri tahu merupakan salah satu industri pengolah berbahan baku kedelai yang penting di Indonesia. Tahu merupakan makanan yang sangat dikenal dan dinikmati oleh banyakmasyarakat Indonesia. Keberadaan industri tahu, hampir tidak dapat dipisahkan dengan adanya suatu pemukiman (Pusteklin, 2002 dalam Yuliadi, 2008). Industri tahu umumnya dikerjakan secara tradisional dan dimiliki oleh pengusaha kecil dan menengah. Disamping keberadaannya yang sangat penting, industri tahu juga mempunyai dampak yang cukup penting terhadap lingkungan terutama masalah limbahnya (Suprapti, 2005 dalam Yuliadi, 2008). Kegiatan industri termasuk industri tahu selalu menghasilkan limbah yang apabila tidak ditangani secara tepat akan menyebabkan pencemaran terhadap lingkungan. Namun jika dikelola dengan baik akan menguntungkan (Pramudyanto dan Nurhasan, 1991; Purnama, 2007).

Unsur Hara Pada Limbah Tahu

Industri tahu menghasilkan limbah padat (kering dan basah) dan limbah cair. Limbah cair tahu mengandung K sebesar 616 mg/l, N-Total sebesar 69,28 mg/l dan P-Total sebesar 39,83 mg/l. Menurut Kaswinarni (2007) komponen terbesar dari limbah cair tahu yaitu protein (N- total) sebesar 226,06-434,78 mg/l, meski begitu kandungan tertinggi limbah cair tahu adalah unsur K.Limbah padat kering industri tahu umumnya berupa kotoran yang tercampur dengan kedelai, misalnya kerikil, kulit dan batang kedelai, serta kedelai yang rusak/busuk, dan kulit ari kedelai yang berasal dari pengupasan kering. Limbah padat basah dari proses pembuatan tahu berupa ampas yang masih mengandung gizi. Limbah padat tahu memiliki kandungan hara N (nitrogen) sebesar 1,24%, P2O5 (fosfat) sebesar 5,54%, dan K2O (kalium) sebesar 1,34% (Yuliadi, dkk., 2008). Namun limbah cair dan padat dari industri tahu dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik pada tanaman budidaya terutama sayuran (Sutejo, 1995; Purnama 2007).

Tabel 2.Hasil analisis komposisi unsur hara pada limbah tahu padat dan cair

Kandungan Limbah tahu
Cair (mg/l) Padat (%)
N 0,27 1,24
P 228,85 5,54
K 0,29 1,34

Sumber : Yuliadi, dkk. (2008)

Syarat komposisi N dan P yang diperlukan untuk pupuk cair sekitar kurang dari 5%. Sehingga kandungan nutrient pada limbah cair tahu memenuhi syarat pupuk cair tersebut (Astuti, 2013). Limbah padat kering industri tahu umumnya berupa kotoran yang tercampur dengan kedelai. Misalnya: kerikil, kulit dan batang kedelai, serta kedelai yang rusak/busuk, dan kulit ari kedelai yang berasal dari pengupasan kering. Limbah padat basah dari proses pembuatan tahu berupa ampas yang masih mengandung gizi. Dalam keadaan baru ampas tahu ini tidak berbau, namun setelah kurang lebih 12 jam akan timbul bau busuk. Secara berangsur-angsur yang sangat mengganggu lingkungan. Pemanfaatan limbah tahu baik limbah padat maupun cair sebagai pupuk dalam budidaya tanaman kubis. Diharapkan dapat meminimalkan pencemaran lingkungan dan membuka lapangan pekerjaan sampingan yang baru. Untuk mengetahui pengaruh limbah tahu terhadap pertumbuhan kol, serta konsentrasi terbaik untuk pertumbuhan tanaman tersebut.

Lihat Juga : Tanaman Kubis Kol (Brassica oleracea) Syarat Tumbuhnya

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *