Manfaat Blotong ( Limbah Pabrik Gula )

Blotong adalah limbah pabrik gula yang bersifat padat dan hangat. Manfaat Blotong belum dimanfaatkan secara maksimal, ini terbukti pada pabrik gula hanya dibuang dan penduduk dipersilahkan mengambil secara bebas. Masyarakat memanfaatkan blotong sebagai bahan timbunan atau pemanfaatan blotong untuk urug tanah dan pupuk tanaman. Satu truk blotong dihargai sekitar  Rp 100.000,00. Harga ini hanya biaya angkut dan menaikan blotong, sedangkan untuk blotong sendiri tidak ada nilai jualnya. Sehingga blotong belum memiliki nilai ekonomi yang tinggi sehingga masyarakat tidak tertarik untuk memanfaatkannya.

Menurut Risvan (2009), dari hasil samping yang diperoleh langsung pada berbagai tahap pengolahan tebu menjadi gula adalah pucuk tebu, ampas, blotong dan tetes. Pabrik Gula Tasikmadu menggunakan proses pembuatan gula dengan motode baru sehingga blotong yang dahulu bersifat lumpur dan berbau sangat menyengat. Sekarang dengan metode baru blotong bersifat kering dan banyak mengandung ampas tebu juga berbau tidak menyengat.
Limbah blotong ini dihasilkan pada unit proses penapisan atau pemurnian nira. Limbah pada blotong dihasilkan dari proses penyaringan dan pemisahan nira kotor dan nira bersih. Nira kotor dimasukkan pada bak kotor dan dimasukkan ke mixer untuk dicampur dengan ampas halus yang bertujuan untuk menyerap manfaat blotong. Sehingga gumpalan blotong akan menjadi besar. Semua saluran di sekitar unit penapisan diberi tutup penahan untuk mencegah agar blotong tidak dapat masuk ke limbah cair. Manfaat Blotong sebagai bahan pembuatan pupuk kompos (Elykurniati, 2009).

Lilin mempunyai susunan yang sangat bervariasi, yaitu serat 15-30%, abu 9-20%, mentah + lemak (lipid) 5-14%, protein mentah 5-15%,SiO2 4-10%, CaO 1-14%, P2O5 1-3%, MgO 0,5-1,5%. Nilai yang sangat bervariasi ini disebabkan oleh beberapa keadaan yang berbeda, seperti jenis tebu, tanah (tempat tanam), efisiensi penggilingan dan pemurnian nira dalam pabrik. Susunan blotong akan tampak berbeda apabila pabrik gula menggunakan cara pemurnian nira berlainan, misalnya pada sulfitasi untuk pemucatan nira. Limbah blotong dari pabrik gula yang menggunakan proses sulfitasi banyak mengandung belerang. Belerang yang ada dalam blotong tidak hanya menyebabkan bau busuk saja, tetapi juga bau belerang yang sangat tidak menyenangkan (Elykurniati, 2009).

Lihat : Pupuk Nitrogen Untuk Pengetahuan Para Petani Indonesia

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *