Belimbing Wuluh Memperpanjang Umur Simpan Buah

Kadar senyawa aktif tertinggi terdapat pada bagian daun (Leinmuler dkk. 1991 cit. ;Abdurohman, 1998 ; Ni Putu, 2014). Zat-zat aktif yang terkandung dalam daun belimbing wuluh adalah tanin, sulfur, asam format, dan flavonoid (Wijayakusuma, 2006 dalam Ni Putu, 2014). Berdasarkan hasil pemeriksaan kandungan kimia belimbing wuluh yang dilakukan Faradisa (2008) menunjukkan bahwa buah belimbing wuluh mengandung golongan senyawa oksalat, minyak atsiri, Fenol, Flavonoid dan Pektin. Batang belimbing wuluh mengandung Saponin, Tanin, Glukosida, Kalsium Oksalat, Sulfur, Asam Format, Peroksida, sedangkan Daunnya mengandung Tanin, Sulfur, Saponin,Flavonoid, Asam Format, Peroksida, Kalsium Oksalat, Kalium Sitrat. Senyawa metabolit sekunder pada tumbuhan misalkan flavonoid, tanin, dan saponin berdasarkan beberapa hasil penelitian mempunyai kemampuan untuk menghambat pertumbuhan bakteri, di dalam daun belimbing wuluh mengandung senyawa metabolit sekunder yaitu flavonoid dan tanin sehingga senyawa aktif tersebut dapat digunakan sebagai antibakteri (Wijayakusuma, 2006 dalam Ni Putu, 2014).

Senyawa tersebut mampu menghambat aktivitas mikroba melalui mekanisme; Tanin merusak membran sel sehingga menghambat pertumbuhan bakteri, Alkaloid akan berikatan dengan DNA sel untuk mengganggu fungsi sel bakteri, Flavonoid medenaturasi protein sel bakteri dan membran sel tanpa dapat diperbaiki lagi, Saponin merusak membran sitoplasma dan kemudian membunuh sel bakteri. Mekanisme kerja antibakteri Tanin, Flavonoid dan Trritepenoid pada ekstrak belimbing wuluh diduga mampu merusak membran sitoplasma dengan mekanisme kerja yang berbeda (Mukhlisoh, 2010). Sehingga daun belimbing wuluh dijadikan obat tradisional karena di dalam daun belimbing wuluh terdapat zat-zat aktif yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri yang sering disebut zat antiseptik (Wijayakusuma, 2006 dalam Ni Putu, 2014).

Saat terjadinya kerusakan membran sitoplasma, ion H+ dari senyawa fenol dan turunannya (flavonoid) akan menyerang gugus polar (gugus fosfat) sehingga molekul fosfolipida akan terurai menjadi gliserol, asam karboksilat dan asam fosfat. Hal ini mengakibatkan membran sitoplasma akan bocor dan pertumbuhan bakteri akan terhambat bahkan sampai kematian bakteri. Kerusakan pada membran sitoplasma mencegah masuknya bahan-bahan makanan atau nutrisi yang diperlukan untuk menghasilkan energi (Muhlison, 2010).

Senyawa Tanin merupakan senyawa turunan fenol yang secara umum mekanisme antimikrobanya dari senyawa fenol. Tanin merupakan growth inhibitor, sehingga banyak mikroorganisme yang dapat dihambat pertumbuhannya oleh tanin. Tanin mempunyai target pada polipeptida dinding sel. Senyawa ini merupakan zat kimia yang terdapat dalam tanaman yang memiliki kemampuan menghambat sintesis dinding sel bakteri dan sintesis protein sel kuman gram positif maupun gram negatif. Aktivitas tanin sebagai antimikroba dapat terjadi melalui beberapa mekanisme yaitu menghambat enzim antimikroba dan menghambat pertumbuhan bakteri dengan cara bereaksi dengan membran sel dan menginaktivasi enzim-enzim esensial atau materi genetik. Selanjutnya, senyawa tannin dapat membentuk komplek dengan protein melalui interaksi hidrofobik sehingga dengan adanya ikatan hidrofobik akan tejadi denaturasi dan akhinya metabolisme sel terganggu (Ummah, 2010; Sa’adah, 2010; Gusti, 2014).

Saponin merupakan glukosida yang larut dalam air dan etanol, tetapi tidak larut dalam eter. Saponin bekerja sebagai antibakteri dengan mengganggu stabilitas membran sel bakteri sehingga menyebabkan sel bakteri lisis, jadi mekanisme kerja saponin termasuk dalam kelompok antibakteri yang mengganggu permeabilitas membran sel bakteri, yang mengakibatkan kerusakan membran sel dan menyebabkan keluarnya berbagai komponen penting dari dalam sel bakteri yaitu protein, asam nukleat dan nukleotida (Ganiswarna, 1995 dalam Gusti, 2014).

Dari uji kualitatif dengan uji busa yang memberikan tinggi busa 1 cm menunjukkan bahwa daun belimbing wuluh mengandung senyawa saponin (Ni Putu, 2014). Pengujian tannin dilakukan sebanyak 2 ml Larutan uji ditambahkan 2 tetes larutan Pb asetat 10%. Terbentuk endapan berwarna putih menunjukkan adanya tannin (Ni Putu, 2014). Pengujian Flavonoid sebanyak 1 mL larutan ekstrak uji diuapkan, dibasahkan sisanya dengan aseton P, ditambahkan sedikit serbuk halus asam borat P dan serbuk halus asam oksalat P, dipanaskan hati-hati di atas tangas air dan dihindari pemanasan berlebihan. Sisa yang diperoleh dicampur dengan 10 mL eter P. Diamati dengan sinar UV366; larutan berfluoresensi kuning intensif, menunjukkan adanya flavonoid (Ni Putu, 2014).

Menurut penelitian Winarti (2005) dalam Ni Putu (2014), konsentrasi daun belimbing wuluh yang diuji mulai dari konsentrasi 0%, 1%, 1,5%, 3,5%, 6%, 7,5%, 9%, dan 10,5%. Penetapan rentang konsentrasi ditetapkan berdasarkan penelitian sebelumnya dimana telah diketahui nilai MFC (Minimal Fungicidal Contentration) dari daun belimbing wulih terhadap Staphylococcus aureus adalah 10,5%. Diketahui dari penelitian pendahuluan pada uji daya hambat ekstrak belimbing wuluh mampu menghambat mikroba (bakteri dan yeast) yang dominan pada tomat busuk dengan diameter hambat 0,5 cm pada konsentrasi ekstrak belimbing wuluh 20% (Ririn dkk, 2015).

Ekstraksi merupakan peristiwa pemindahan massa zat aktif yang semula berada dalam sel ditarik oleh pelarut sehingga terjadi larutan zat aktif dalam pelarut tersebut (Ahmad, 2006). Pada umumnya ekstraksi akan bertambah baik bila permukaan serbuk simplisia yang bersentuhan dengan pelarut makin luas. Tetapi dalam pelaksanaannya tidak selalu demikian karena ekstraksi masih tergantung juga pada sifat fisik dan kimia simplisia yang bersangkutan (Ahmad, 2006). Dalam metode ekstraksi bahan alam, dikenal suatu metode maserasi. Maserasi merupakan suatu metode ekstraksi menggunakan lemak panas. Akan tetapi penggunaan lemak panas ini telah digantikan oleh pelarut-pelarut organic yang volatil. Penekanan utama pada maserasi adalah tersedianya waktu kontak yang cukup antara pelarut dan jaringan yang diekstraksi (Guether, 1987; Sa’adah 2010).

Maserasi merupakan cara ekstraksi yang sederhana. Maserasi dilakukan dengan cara merendam serbuk simplisia dalam pelarut. Pelarut akan menembus dinding sel dan masuk ke dalam rongga sel yang mengandung zat aktif sehingga zat aktif akan larut. Karena adanya perbedaan konsentrasi antara larutan zat aktif di dalam sel, maka larutan yang terpekat di desak keluar. Keuntungan cara ekstraksi ini, adalah cara pengerjaan dan peralatan yang digunakan sederhana dan mudah diusahakan, murah dan selain itu dikhawatirkan senyawa yang terkandung pada buah belimbing wuluh merupakan senyawa yang tidak tahan terhadap panas, sehingga metode maserasi dinilai lebih sesuai untuk digunakan. Sedangkan kerugiannya adalah waktu pengerjaannya lama dan ekstraksi kurang sempurna (Ahmad, 2006 ; Lathifah, 2008).

Pelarut yang digunakan dapat berupa air, etanol, air-etanol, atau pelarut lain. Gusti (2014) menggunakan metanol untuk mengekstrak senyawa aktif antimikroba dari daun mengkudu dan Zakaria et al. (2007) menggunakan akuades dan kloroform untuk mengekstrak senyawa aktif antibakteri dari daun dan buah belimbing wuluh. Metode ekstraksi yang digunakan pada kedua penelitian tersebut adalah maserasi. Pemilihan pelarut untuk ekstraksi harus mempertimbangkan banyak faktor. Pelarut harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut: murah dan mudah diperoleh, stabil fisika dan kimia, bereaksi netral, tidak mudah menguap dan tidak mudah terbakar, selektif dan tidak mempengaruhi zat berkhasiat (Ahmad, 2006).

Dalam penelitian Lathifah (2008) menggunakan akuades, metanol, etanol, kloroform dan petroleum eter untuk mengekstrak senyawa aktif antimikroba dari daun belimbing wuluh menunjukkan bahwa etanol merupakan pelarut terbaik. Dimana konsentrasi ekstrak 300, 350, 400 dan 450 mg/mL dengan pelarut etanol berpengaruh sangat nyata (p < 0,01) di antara konsentrasi lain. Ni Putu (2014), sebanyak 900 gram serbuk daun belimbing wuluh dimaserasi menggunakan 2,5 liter etanol 96% pada suhu kamar selama 1 hari disertai dengan pengadukan setiap 10 jam sekali menunjukkan bahwa belimbing wuluh dengan konsentrasi 10,5%, 11%, 12% efektif dapat membunuh bakteri mix saluran akar.

Proses pengeringan ekstrak daun mengkudu yang dilakukan oleh Gusti (2014) dengan cara menimbang daun sebanyak 230 gram, kemudian dimaserasi menggunakan 2,5 liter etanol 80% pada suhu kamar selama 1 hari dan disertai dengan pengadukan setiap 10 jam sekali. Kemudian disaring dan didiamkan selama 1 hari, dilanjutkan ketahap pengentalan ekstrak menggunakan rotary evaporator (80 rpm, 450C, 0,62bar) (Gusti, 2014). Pengeringan dilakukan terkait dengan sifat fisik dari buah dan daun belimbing wuluh yang mudah busuk, dengan pengeringan danun dan buah belimbing wuluh akan lebih awet dan tahan terhadap mikroba (Lathifah, 2008).

Baca Juga : Pemberian Nutrisi Pada Tanaman

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *