Bag 9 : Sel Heterokista Pada Anabaena Azollae Mengikat Nitrogen

Dinamika sel heterokista pada Azolla sp. juga dapat dilihat melalui TKN (total kjeldahl nitrogen). Nilai TKN pada perlakuan 0 mg/L lebih kecil dibandingkan dengan perlakuan lainnya. Nilai TKN yang rendah memiliki jumlah sel heterokista yang lebih tinggi, karena tidak terdapat sumber nitrogen pada media. Hal ini juga berlaku sebaliknya.

Tersedianya sumber fosfor juga menjadi salah satu faktor yang menentukan pertumbuhan AzollaAnabaena. Orthofosfat merupakan bentuk fosfor anorganik yang dapat langsung diserap oleh alga dan tumbuhan. Konsentrasi Orthofosfat pada ketiga perlakuan selama penelitian mengalami penurunan setiap minggunya (Gambar 9). Hal ini menunjukkan adanya pemanfaatan fosfor yang digunakan untuk pertumbuhan Anabaena-Azolla. Fosfor merupakan komponen esensial yang digunakan untuk proses metabolisme (Lumpkin & Plucknett 1982 in Wegner 1997).

Uji statistik dengan rancangan acak in time menunjukkan bahwa perlakuan yang diberikan (konsentrasi nitrogen) berpengaruh nyata terhadap parameter heterokista dan Amonia. Sedangkan waktu penelitian memberikan pengaruh nyata terhadap semua parameter yang di uji yaitu heterokista, amonia, nitrit, dan nitrat. Uji lanjut yang dilakukan menunjukkan bahwa ketiga perlakuan memiliki pengaruh yang berbeda terhadap perubahan jumlah sel heterokis dan konsentrasi amonium (Lampiran 6).

RGR pada perlakuan dengan sumber nitrogen menunjukkan nilai yang lebih rendah dibandingkan dengan perlakuan tanpa sumber nitrogen. Kondisi ini terjadi karena nitrogen yang berlebihan akan menyebabkan kejenuhan sehingga menghambat metabolisme (Caicedo et al. 2000). Rendahnya sumber nitrogen (amonium atau nitrat) dalam medium meningkatkan laju pertumbuhan dari Azolla sp. (Tuzimura et al. 1957 in Singh et al.1992). Nilai RGR yang tinggi menunjukkan kemampuan menggandakan diri (doubling time) yang cepat. Doubling time pada penelitian ini lebih lambat dibandingkan dengan Hasan & Chakrabarti (2009). Perbedaan doubling time, dipengaruhi juga oleh suhu. Suhu mempengaruhi proses fisiologis pada tanaman berupa laju transpirasi, laju penyerapan air dan nutrisi serta fotosintesis. Suhu optimum untuk pertumbuhan Azolla berkisar 18-28°C (Tuan & Thuyet 1979 in Wegner 1997). Pada kisaran suhu tersebut, proses fiologis akan meningkat, namun bila melewati titik optimum, maka proses tersebut mulai terhambat (Sutopo 2002 in Husen 2011). Nilai suhu pada penelitian ini berkisar 27-31°C, menyebabkan proses fisiologisnya terhambat, sehingga doubling time pada penelitian ini lebih lambat dibandingkan dengan doubling time Azolla sp. pada lingkungan dengan suhu optimum. Pada lingkungan yang optimum Azolla dapat menggandakan diri dalam kisaran waktu 2-10 hari (Hasan & Chakrabarti 2009).

Suhu pada perairan juga dipengaruhi oleh intensitas cahaya yang masuk ke air. Intensitas cahaya pada penelitian ini berkisar antara 3250-5960 lux. Nilai intensitas cahaya tersebut masih sesuai untuk mendukung pertumbuhan Azolla sp. Kisaran intensitas cahaya yang mendukung untuk pertumbuhan Azolla sp. yaitu berkisar antara 25-50% dari penyinaran matahari penuh dengan intensitas cahaya 15 klux (Watanabe 1978). Parameter kualitas air lainnya yang mempengaruhi pertumbuhan dan fiksasi nitrogen yaitu pH. Pada penelitian ini, pH berkisar antara 5,50-7,35. Wegner 1997 menyebutkan bahwa pH optimum untuk pengikatan nitrogen berkisar 5-7. Semakin tinggi aktivitas fiksasi nitrogen yang berlangsung maka akan semakin rendah nilai pH pada media (Marschner & Romheld 1983).

Dinamika sel heterokista dapat dilihat dari perubahan jumlah sel heterokis sebagai respon dari kurangnya ketersediaan nitrogen (amonium dan nitrat) pada media. Sel heterokis dapat terbentuk dan menjadi heterokis dewasa dalam waktu 15 jam (Wilcox 1973). Hal ini menunjukkan heterokis dapat cepat terbentuk sebagai respon dari kurangnya sumber nitrogen. Sesuai dengan hasil akhir penelitian ini, persentase sel heterokis tertinggi dimiliki oleh perlakuan 0 mg/L (tanpa sumber nitrogen). Perubahan sel heterokis terlihat pada minggu awal, dimana heterokis meningkat signifikan pada perlakuan 0 mg/L. Selanjutnya, jumlah sel heterokis pada Anabaena azollae berfluktuasi bergantung pada ketersediaan konsentrasi nitrogen pada media. Nitrogen yang difiksasi oleh sel heterokis dapat dilepas ke media pada saat pertumbuhan dan ketika Azolla sp. mengalami dekomposisi. Perubahan jumlah sel heterokis pada Anabaena azollae, bermanfaat memberikan informasi mengenai peran Anabaena-Azolla dalam memperkaya nitrogen pada lingkungan hidupnya. Secara ekologi, hal ini berkaitan dengan ketersediaan nutrien khususnya nitrogen pada lingkungan perairan.

KESIMPULAN

Perlakuan konsentrasi nitrogen yang diberikan pada media pertumbuhan Azolla sp. menghasilkan jumlah heterokis yang berbeda. Jumlah sel heterokista tertinggi terdapat pada perlakuan dengan konsentrasi nitrogen 0 mg/L yang berfluktuasi selama 21 hari pengamatan.

Untuk lebih lengkap Download atau Kembali ke Bagian 1 Baca Selengkapnya


Sumber Tulisan : Goran Suryanti Afifah Sulaiman
Judul Materi : DINAMIKA SEL HETEROKIS PADA Anabaena azollae DALAM MEDIA DENGAN KONSENTRASI NITROGEN BERBEDA
Kata kunci : Anabaena azollae, Azolla sp., Heterokis

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *