Bag 8 : Sel Heterokista Pada Anabaena Azollae Mengikat Nitrogen

Berdasarkan penelitian yang dilakukan dapat diketahui bahwa jumlah heterokista berfluktuasi pada ketiga perlakuan (0 mg/L, 5 mg/L, dan 10 mg/L). Fogg (1949) menjelaskan bahwa jumlah heterokista pada Anabaena berfluktuasi selama siklus pertumbuhannya, dan struktur heterokista berkembang ketika beberapa zat nitrogen spesifik dalam sel normal berada pada konsentrasi kritis. Berdasarkan pengamatan pada heterokis yang dilakukan secara visual (Lampiran 4) selama penelitian, diketahui bahwa satu sel heterokis ditemukan diantara 2-20 sel vegetatif. Anabaena azollae yang bersimbiosis dengan Azolla sp. dapat mencapai jumlah heterokista yang tinggi, Jarak antara dua sel heterokis berada diantara 3-5 sel vegetatif. Pada alga biru yang tidak bersimbiosis, jarak antara dua sel heterokis berkisar 15-30 sel vegetatif (Watanabe 1984).

Sel heterokis pada Anabaena azollae dengan media tanpa penambahan sumber nitrogen (perlakuan 0 mg/L), memiliki jumlah sel heterokis lebih tinggi dibandingkan perlakuan lainnya (Gambar 4). Terbentuknya sel heterokis tersebut terjadi karena diferensiasi sel vegetatif menjadi sel heterokis, yang merupakan respon dari kurangnya konsentrasi nitrogen pada media hidup Azolla-Anabaena. Sumber nitrogen yang cukup pada media, menyebabkan sel heterokis yang terbentuk lebih sedikit. Hal ini sesuai dengan pendapat Hill (1977), bahwa terbentuknya heterokista pada Anabaena azollae dapat dihambat oleh nitrogen yang disuplai Azolla sp.

Sel heterokis akan mengikat nitrogen dari udara dan merubahnya menjadi amonium. Sejumlah kecil amonium hasil fiksasi akan di lepaskan ke dalam air selama pertumbuhannya (Watanabe 1984). Hal ini sesuai dengan hasil penelitian, terdapat peningkatan konsentrasi amonium pada media (Gambar 6). Peningkatan amonium juga dapat disebabkan oleh Azolla sp. yang mati dan melepaskan amonium ke media hidupnya. Selama dekomposisi, nitrogen organik dimineralisasi secara cepat pada dua minggu pertama, selanjutnya laju dekomposisi berjalan lebih lambat (Watanabe 1984). Oleh karena itu, pada akhir pengamatan, konsentrasi amonium pada semua perlakuan meningkat dibandingkan dengan minggu sebelumnya. Azolla sp. yang mati ditunjukkan dengan warna daun yang kecoklatan.

Selain amonium, sumber nitrogen anorganik lainnya yang dapat dimanfaatkan oleh alga atau tanaman air adalah nitrat. Hasil penelitian menunjukkan konsentrasi nitrat dalam media hidup Azolla sp. pada ketiga perlakuan meningkat hingga hari ke 14 (Gambar 8). Peningkatan nitrat diduga karena terjadinya proses nitrifikasi. Penurunan konsentrasi nitrat terjadi seiring dengan kritisnya konsentrasi amonium (Hari ke-21). Sigee (2005) menjelaskan bahwa Nitrat akan dimanfaatkan apabila amonium berada dalam kondisi kritis, karena dibutuhkan lebih banyak energi untuk melakukan proses penyerapan nitrat.

Nitrit merupakan sumber nitrogen anorganik lainnya yang dapat dimanfaatkan oleh alga dan tanaman air. Nitrit pada penelitian ini tidak mengalami perubahan konsentrasi yang signifikan disetiap pengamatan (Gambar 7). Hal ini karena sifat nitrit yang tidak stabil dengan keberadaan oksigen sehingga keberadaannya hanya sedikit diperairan. Selain itu, alga akan lebih memilih menggunakan nutrien dalam bentuk nitrat atau amonium (Morris 1974 in Widiastuti 2012) .

Bersambung ke Bagian 9 Baca Selengkapnya atau kembali ke Bagian 1 Baca Selengkapnya


Sumber Tulisan : Goran Suryanti Afifah Sulaiman
Judul Materi : DINAMIKA SEL HETEROKIS PADA Anabaena azollae DALAM MEDIA DENGAN KONSENTRASI NITROGEN BERBEDA
Kata kunci : Anabaena azollae, Azolla sp., Heterokis

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *