Bag 2 : Sel Heterokista Pada Anabaena Azollae Mengikat Nitrogen

Tumbuhan Azolla sp. merupakan jenis tumbuhan paku air yang mengapung dan sangat rentan terhadap kondisi lingkungan yang kering. Tumbuhan ini umumnya terdapat di perairan tergenang, terutama di sawah, rawa, dan kolam. Azolla sp. dikenal mampu meningkatkan konsentrasi nitrogen pada lingkungan hidupnya. Oleh karena itu, Azolla sp. dapat berfungsi sebagai pupuk organik. Kemampuan Azolla sp. sebagai pupuk organik disebabkan oleh kemampuan tumbuhan ini berasosiasi dengan Anabaena azollae. (sel heterokista)

Anabaena azollae merupakan alga berfilamen yang memiliki kemampuan mengikat nitrogen (N2) langsung dari udara dan mengubahnya menjadi amonium (NH4+) dengan bantuan enzim nitrogenase (Meeks & Elhai 2002). Proses fiksasi nitrogen terjadi pada sel heterokis. Sel heterokis merupakan diferensiasi sel vegetatif yang terbentuk ketika nitrogen pada lingkungan berada dalam konsentrasi yang rendah (Wolk 1982 in Wei 1994). Sel heterokis muncul dengan interval yang hampir teratur terhadap keberadaan sel vegetatif. Letak sel heterokis dapat berada di terminal (ujung) atau interkalar (tengah) koloni (Meeks & Elhai 2002).

Penambahan lapisan glikolipid dan polisakarida di bagian luar dinding sel vegetatif, terjadi selama proses diferensiasi pada sel heterokis Anabaena azollae. Selanjutnya terbentuk pori-pori (lubang) pada ujung sel heterokis yang berfungsi menghubungkan sel heterokis dengan sel vegetatif. Sel heterokis berwarna hijau kekuningan dikarenakan hilangnya pigmen phycobiliprotein (Meeks & Elhai 2002).

Sel heterokis dan sel vegetatif saling melengkapi dalam melakukan proses metabolisme pada Anabaena azollae. Sel vegetatif berperan menyediakan gula, sedangkan heterokis menyediakan sumber nitrogen (Golden dan Yoon 2003 in Qin et al. 2012). Sel heterokis pada rangkaian filamen memfiksasi nitrogen dan mengubahnya menjadi glutamin, selanjutnya akan dirubah menjadi karbohidrat oleh sel vegetatif melalui proses fotosintesis. Proses fotosintesis pada Cyanophyceae memanfaatkan klorofil-a dan pigmen phycobiliprotein (Cohen & Bryant 1982 in Mur et al. 1999). Pigmen tersebut menyerap cahaya hijau, kuning, dan jingga yang merupakan bagian dari spektrum (500-650 μm) (Mur et al. 1999).

Buikema (1991) menjelaskan bahwa pada Cyanophyceae berheterokis seperti Anabaena, seluruh sel dalam satu rangkaian filamen akan memiliki morfologi yang sama saat kondisi nitrogen terpenuhi. Sebaliknya, sel heterokis akan terbentuk ketika sumber nitrogen (amonium atau nitrat) tidak terpenuhi pada media pertumbuhannya. Oleh karena itu, perlu dilakukan pengkajian mengenai dinamika jumlah sel heterokis pada Anabaena Azollae yang bersimbiosis dengan Azolla sp. yang ditumbuhan dalam media dengan konsentrasi nitrogen berbeda.

Bersambung ke Bagian 3 Selengkapnya atau kembali ke Bagian 1 Baca Selengkapnya


Sumber Tulisan : Goran Suryanti Afifah Sulaiman
Judul Materi : DINAMIKA SEL HETEROKIS PADA Anabaena azollae DALAM MEDIA DENGAN KONSENTRASI NITROGEN BERBEDA
Kata kunci : Anabaena azollae, Azolla sp., Heterokis

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *